Selasa, 29/09/2026

Hujan Belum jadi Tanda Kemarau Berakhir, Kabut Asap Masih Membayangi Samarinda

Selasa, 29/09/2026

Kondisi genangan di salah satu ruas jalan di Samarinda setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah pada Senin (28/9/2026). (Ayu/KoranKaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Hujan Belum jadi Tanda Kemarau Berakhir, Kabut Asap Masih Membayangi Samarinda

Selasa, 29/09/2026

logo

Kondisi genangan di salah satu ruas jalan di Samarinda setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah pada Senin (28/9/2026). (Ayu/KoranKaltim.com)

Penulis : Ayu Norwahliyah 

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Kabut asap masih membayangi sejumlah wilayah Kota Samarinda meski hujan mulai turun dalam dua hari terakhir. Curah hujan yang tergolong singkat dan belum merata dinilai masih belum cukup untuk mengikis kabut asap selama musim kemarau.

Prakirawan Cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Samarinda Gilang Arya menjelaskan, hujan yang hanya berlangsung satu atau dua hari tidak akan mampu menurunkan konsentrasi asap secara signifikan. “Misalkan sebelumnya tidak hujan dan banyak asap, kemudian hujan hanya turun selama dua hari, kemungkinan besar asap tersebut tidak akan langsung hilang,” kata Gilang, Selasa (29/9/2026).

Kabut asap masih berpotensi bertahan jika hujan tidak kembali turun dalam beberapa hari ke depan. Karena itu hujan yang turun secara berkala diperlukan untuk membantu mengurangi dan membersihkan asap di udara secara bertahap.

Mengenai keterbatasan jarak pandang (visibility), Gilang mengimbau masyarakat untuk membedakan antara fenomena kabut dan asap.

Kabut umumnya terbentuk pada pagi hari akibat kelembapan udara yang tinggi. Sebaliknya, apabila jarak pandang tetap terbatas hingga siang hari, kondisi tersebut mengindikasikan keberadaan asap. “Kalau untuk pagi hari biasanya kabut itu karena kelembabannya tinggi. Misalkan siang hari masih jarak pandangnya rendah, itu bisa jadi karena asap. Kabut itu biasanya terjadi di pagi hari,” sebut Gilang lagi.

Berdasarkan pemantauan pos hujan BMKG, sebaran hujan dalam dua hari terakhir juga belum merata dan masih terkonsentrasi di area perkotaan. “Bahkan di Samarinda Utara itu hanya gerimis kecil, habis itu sudah tidak ada hujan. Hanya di Samarinda kotanya aja,” ujarnya.

Turunnya hujan meski dengan intensitas tinggi bukan pertanda berakhirnya kemarau karena Kota Tepian diprakirakan masih berada dalam periode kemarau sepanjang September, sementara awal musim hujan diproyeksikan baru dimulai pada akhir Oktober hingga awal November.

Untuk prakiraan dasarian berikutnya, potensi hujan tetap ada meski berada dalam kategori curah hujan rendah, yakni 0–20 milimeter (mm). Status kemarau bukan berarti menutup sama sekali peluang terjadinya hujan.

Turunnya hujan belakangan ini turut didorong oleh dinamika atmosfer lokal. Meski siklon tropis yang dipantau BMKG mulai menjauh, tingkat penguapan di wilayah Samarinda masih terbilang tinggi. “Karena dilewati sungai dan dekat laut juga. Angin di lapisan atas setelah adanya siklon itu juga mulai makin kencang,” ungkapnya.

Mengenai kepastian peralihan musim, BMKG masih menunggu hasil analisis iklim resmi, termasuk memantau perkembangan fenomena El Nino yang diprakirakan berlangsung hingga awal tahun depan.

Masyarakat diimbau tetap mewaspadai potensi hujan deras berdurasi singkat yang dapat memicu banjir di tengah masa kemarau, sekaligus mengantisipasi paparan kabut asap yang belum sepenuhnya sirnah.

“Meskipun masih kemarau tetapi hujan lebat itu bukan berarti tidak terjadi,” tutup Gilang.

Editor: Aspian Nur

Hujan Belum jadi Tanda Kemarau Berakhir, Kabut Asap Masih Membayangi Samarinda

Selasa, 29/09/2026

Kondisi genangan di salah satu ruas jalan di Samarinda setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah pada Senin (28/9/2026). (Ayu/KoranKaltim.com)

Share

Berita Terkait