Ahli Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Fajar Alam menyampaikan bahwa penemuan emas di Kaltim tersebut bukanlah hal baru. Apalagi menurutnya, masyarakat Dayak sudah sejak lama mengenal praktik pendulangan emas tradisional atau panning.
Ia menyebut, catatan lama telah mendokumentasikan keberadaan emas di Kaltim. Salah satunya buku Borneo: Its Geology and Mineral Resources terbitan 1892, yang menampilkan lokasi-lokasi di Kaltim dengan kandungan emas.
“Pada 2011 juga pernah ditemukan emas di Tabang, tepatnya di Sungai Lunuk dan Muara Tebok. Jadi, temuan saat ini bisa dikatakan pengulangan dari sekitar 14 tahun lalu,” ujar Fajar, saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Kamis (4/9/2025).
Khusus di Desa Sidomulyo, Fajar menjelaskan secara geologi memang terdapat indikasi endapan emas. Namun, bisa jadi endapan tersebut hanya berupa larutan atau berada di luar sumbu utama, sehingga skalanya terbatas.
Dia juga mengingatkan, di masa lalu emas sempat ter beritakan di Busang, Kutai Timur, yang posisinya relatif berada pada punggungan yang sama dengan Tabang.
“Artinya, secara geologi memungkinkan ditemukannya endapan emas, meskipun tidak selalu ekonomis bagi perusahaan. Jika tipenya mirip Busang, maka endapannya berasal dari proses vulkanik,” ucapnya.
Lebih lanjut, Fajar memaparkan secara struktur, Tabang berada di dalam Cekungan Kutai yang didominasi sedimen Tersier dan lapisan batu bara tebal.
Di bawahnya terdapat batuan dasar yang lebih tua, yang tersusupi intrusi magma serta dilalui sesar, menurutnya kondisi ini berpotensi menciptakan sistem mineralisasi emas.
Fajar juga menjelaskan, potensi emas di Tabang bisa berbentuk emas aluvial, yaitu butiran halus yang terbawa arus sungai, atau emas primer yang terikat pada urat kuarsa hasil endapan fluida hidrotermal dari magma.
Fluida hidrotermal sendiri terbentuk ketika intrusi magma memanaskan air di dalam kerak bumi hingga kaya larutan mineral dan gas. Saat tekanan dan suhu turun, logam-logam akan mengendap dan membentuk urat kuarsa berisi emas serta mineral sulfida.
“Karena itu, banyak tambang emas dunia, termasuk Kelian di Kutai Barat, terkait langsung dengan sistem hidrotermal,” tutupnya.
Editor: Erwin