Dengan kedalaman seperti itu, sebagian sumur sudah terisi air. Karenanya, mereka lantas menguras dengan menggunakan mesin penyedot, Alkon. Tapi, entah apa yang terjadi. Baru saja 4 ember tanah digali Rudi. Ia tetiba merasa pusing dan lemas. Kejadian terus berlanjut dan berulang kepada 2 rekannya yang lain. Hingga, Ancah salu satu dari 3 penggali sumur itu harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Bahkan, untuk mengeluarkan Ancah dari dalam sumur. Rudi dan Anwar harus mendapatkan bantuan Tim Rescue Disdamkar Samarinda. Ketiganya lemas, diduga menghirup gas hingga nyaris tewas. Tapi, sebenarnya apa yang terjadi pada ketiganya ? Mengapa mereka bisa sampai lemas bahkan kritis ? Kemungkinan paling bisa dipahami, adalah adanya gas di dalam sumur gali yang membuat trio itu sulit bernapas.
Lalu bagaimana itu terjadi ? Apa ada penjelasan ilmiahnya ? Guna menjawab pertanyaan panjang itu, Korankaltim.com, melakukan kajian pustaka singkat terhadap penelitian maupun referensi ilmiah lain, yang terpublikasi secara luas.
Jawaban didapat, dari Tesis Diploma Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, yang dipublikasikan pada 2016. Tesis berjudul ALAT PENDETEKSI BAHAYA GAS BERACUN PADA SUMUR GALI itu, ditulis oleh Aji Prasetiyo Witanto.
Pada bagian latar belakang, Aji menuliskan bahwa kecelakaan kerja saat proses pengeboran dan pengurasan sumur gali dapat menimbulkan korban. Hal ini bisa disebabkan karena adanya gas beracun dan juga tipisnya kandungan udara bersih yang ada di dasar sumur.
Gas beracun yang ada meliputi Karbon Dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Amonia (NH3), Metana (CH3) dan sebagainya.Untuk gas Karbon Monoksida (CO) diproduksi oleh pompa air berbahan bakar minyak. Hal-hal itu, jika dikomparasikan dengan fakta yang terjadi pada trio penggali sumur di Palaran, memiliki beberapa kesamaan.
Yakni, udara yang tipis, juga penggunaan pompa air berbahan bakar minyak. Sumur gali memang merupakan sarana untuk menyadap dan menampung air tanah dengan cara menggali tanah berbentuk sumuran agar mendapatkan air yang sehat dan murah.
Tetapi untuk mendapatkan air kita harus melakukan penggalian, terkadang hanya dengan kedalaman 6-7 meter saja sudah ada air yang keluar, tetapi banyak juga sumur dengan kedalaman sampai 12-15 meter untuk dapat memperoleh air dan tak dipungkiri banyak musibah yang terjadi pada saat orang melakukan penggalian sumur, bahkan yang tragis sering juga berakibat kejadian dengan korban lebih dari satu orang.
Apabila dilihat lebih jauh lagi, korban yang mengalami permasalahan dalam sumur umumnya karena mengalami sesak pernafasan. Kondisi ini terjadi karena memang udara segar dalam lubang sumur yang sempit. Kecelakaan yang terjadi di dalam sumur umumnya disebabkan oleh tidak cukupnya kadar oksigen untuk bernafas bahkan mungkin sama sekali tidak terdapat oksigen.
Ketiadaan oksigen bisa terjadi apabila di dalam sumur berlangsung proses pembusukan bahan-bahan organik seperti sampah organik basah atau daun-daun, jamur yang membusuk atau hewan yang mati. Oleh mikroba, baik aerob maupun anaerob, bahan organik yang mati akan diuraikan menjadi berbagai macam gas setelah melalui beberapa tahap proses penguraian .
Gas yang dihasilkan dari penguraian bahan organik itu diantaranya karbondioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S yang baunya busuk), amonia (NH3), metana (CH3) dan sebagainya. Berikut penjelasan dari gas-gas tersebut : 2.1.1 Gas Karbon Monoksida (CO) Gas Karbon Monoksida (CO) muncul sebagai salah satu dari gas buangan mesin pompa air akibat pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Apabila mesin pompa air dimasukkan dan diaktifkan.[]
Penulis/editor : Rusdi
Sumber Pustaka :
Adhestian Naufal Rizaldy & Aji Prasetiyo Witanto, ALAT PENDETEKSI BAHAYA GAS BERACUN PADA SUMUR GALI MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER DAN DIMONITOR SECARA WIFI (Publikasi Tesis Diploma Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya : 2016)