Pendidikan Sejak Dini Bisa jadi Solusi Jangka Panjang Penanganan Sampah di Samarinda
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis : Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Pembentukan karakter sejak usia dini dinilai Wali Kota Samarinda Andi Harun bisa jadi satu dari beberapa solusi dalam hal menangani masalah sampah di Kota Tepian.
Di dua negara maju seperti Singapura dan Jepang, memiliki pola berbeda dalam hal penanganan sampah. Di Singapura negaranya bersih karena memiliki aturan ketat, bahkan memberi denda cukup tinggi bagi pelanggar kebersihan.
Sementara di Jepang, pemerintah negara tersebut menciptakan budaya bersih tanpa mengandalkan hukuman, melainkan pendidikan sejak usia dini. “Ini yang ingin kami dorong di Samarinda dan Kaltim,” kata Andi Harun.
Orang nomor satu di Kota Tepian itu menginginkan seluruh sekolah di Kaltim mengajarkan literasi kebersihan secara konsisten. Menurutnya, jika hal ini dimulai dari sekarang, maka dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang akan tumbuh generasi yang sadar dan beradab.
“Jadi kita tidak perlu lagi pasang spanduk peringatan atau membuat aturan baru. Kesadaran itu lahir dari diri sendiri,” tegasnya.
Sebagai bentuk konkret pembangunan berbasis pendidikan, Pemkot Samarinda kini tengah mempercepat pembangunan sekolah bertaraf internasional di Loa Bakung. Sekolah yang ditargetkan rampung pada Juli 2025 ini nantinya akan mengusung sistem bilingual serta kurikulum gabungan Indonesia dan Cambridge. “Seleksi gurunya juga ketat, karena yang kita bangun bukan hanya sekolah, tapi kualitas manusia masa depan,” jelas Andi Harun.
Meskipun diakuinya proyek ini menuai kritik dari sebagian pihak karena dianggap menghabiskan anggaran yang besar, namun ditegaskannya pembangunan kota membutuhkan fasilitas yang representatif. “Kalau bicara wajah kota, tentu standar pembangunannya berbeda dengan wilayah kabupaten. Ini bagian dari urban development,” tegasnya.
Permasalahan sampah di Kota Samarinda sampai saat ini memang jadi tugas yang tak kunjung selesai dilakukan Pemerintah Kota Samarinda. Setiap harinya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengangkut sampah hingga 600 ton dari berbagai penjuru kota.
Nyatanya volume sampah yang besar itu belum sepenuhnya teratasi, sebab kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan masih rendah sehingga penanganan persoalan ini tak cukup hanya lewat pendekatan hukum dan penindakan namun juga lewat dunia pendidikan.
Editor: Aspian Nur










