
Lebih seratus ribu sekolah di Indonesia telah menerapkan kurikulum kampus merdeka, begitu pula untuk tingkat Perguruan Tinggi yang angkanya telah mencapai seribuan.
Teranyar, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) yang berada di provinsi tempatnya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara berada juga telah menerapkan Kurikulum Merdeka ini sejak dua tahun lalu.
Ketua Program Studi S1 Teknik Mesin Fakultas Teknik UMKT Anis Siti Nurrohkayati mengatakan, kurikulum Merdeka ini memberi kesempatan untuk menjadikan mahasiswa merdeka dengan bebas meng-eksplore diri. Mahasiswa dapat mengambil mata kuliah di kampus lain selama berkaitan. “Kita di Teknik Mesin diberi kesempatan untuk rasakan ilmu di luar bidang kita,” ungkap Anis.
Di dalam program Kampus Merdeka ini tak hanya dapat mempelajari pada bidang lain, melainkan juga dapat terjun ke dunia kerja yang langsung ke perusahaan-perusahaan. Mahasiswa kata dia, tentunya menjadi lebih tertarik karena dapat langsung mengaktualisasikan pemahaman akademik yang didapatkan di dalam kelas dengan mengaplikasikan di industri.
Kemudian, terdapat juga pertukaran mahasiswa ke kampus lain selama satu periode yaitu sekitar satu semester. Secara nasional sudah banyak kampus yang mengakomodasi Kurikulum ini, sehingga dilanjutkan dengan penerapan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) diantaranya seperti Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, beberapa kampus di Malang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Sejak diterapkannya kurikulum Merdeka, di UMKT secara keseluruhan sudah ada lima orang mahasiswanya yang diberangkatkan ke kampus lain dengan mengikuti program PMM. Diharapkan ke depan banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengetahui lingkungan belajar di luar Kalimantan.
“PMM pertama itu di tahun ajaran 2020-2021, Insyaallah di tahun depan juga akan mengirimkan mahasiswa,” urainya.
Selain mengirim mahasiswa ke kampus lain, pihaknya juga menerima untuk mahasiswa yang datang. Pada periode pertama, Anis dipercaya untuk menjadi Pengampu Mahasiswa. Sekitar 20 mahasiswa yang datang untuk diberikan bimbingan. Kemudian, pada periode kedua ia diminta untuk menjadi Dosen Modul Nusantara. Hal ini ialah bertugas membantu para mahasiswa mengenal serta mengetahui banyak hal terkait seluruh hal yang ada di Kaltim dari kekayaan budaya, seni, wisata, hingga kuliner yang dimiliki.
“Saya didampingi 1 orang LO (Liaison Officer). Kemarin kita mengajak mengenal wisata budaya Pampang, dan di Kutai Kartanegara,” terangnya.
Anis mengaku telah merasakan banyak kelebihan serta keunggulan setelah kampusnya menerapkan kurikulum merdeka ini. Teknik Mesin lanjut dia, dapat beradaptasi dengan program Kampus Merdeka ini.
Dianggap Hanya Ada Hutan
LO Modul Nusantara di UMKT, Imam Hanafi bercerita mengenai kenangan kelam yang dirasakan tatkala mendampingi para mahasiswa luar saat bertandang di kampusnya. Imam berkata bahwa para mahasiswa tersebut ketika masih berada di daerah asalnya malah menganggap Kalimantan itu hutan. Sehingga terkejut saat melihat Kaltim khususnya Samarinda secara langsung. “Masa dikira Kaltim itu hanya ada hutan. Makanya mereka terkejut saat datang ke sini,” akunya.
Imam menyebut para mahasiswa tersebut juga mengalami culture shock karena adanya perbedaan kebiasaan khususnya penggunaan tata bahasa yang digunakan sehari-sehari di Kaltim. “Mereka itu bingung karena kita biasa gunakan kata imbuhan ‘kan’, ‘lok’ jadinya kalau dengar itu mereka hanya bisa diam sembari mencoba memahami,” tukasnya.
Sebagai informasi, saat menjadi pendamping pada program Modul Nusantara, terdapat 18 mahasiswa dari luar kampus yang terdiri dari 4 laki-laki dan 14 perempuan. Seluruh mahasiswa ini berasal dari pulau Jawa dan Sumatera.
Kaltim Masih Tertinggal
Kampus di Provinsi Kaltim dianggap masih kalah saing dalam hal akademis dengan beberapa kampus di luar. Seperti ini lah value yang didapat oleh Muhammad Andre Safardiansyah saat menjadi mahasiswa yang bertandang ke Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya sebagai salah satu peserta PMM 2022.
Andre mengatakan secara sistem belajar mengajar di sana sudah cukup maju. Bahkan, kampus yang didatanginya tersebut telah terakreditasi A unggul, dengan akreditas Prodi A. “Di sana (Untag Surabaya) lebih disiplin. Sistemnya berjalan dengan baik. Ibarat hari ini tugas harus dikumpul, ya memang harus dikumpul, lewat tinggal,” ungkap Andre mengisahkan.
Budaya belajar mengajar di sana pun lanjut Andre, bahwa sangat ketat. Karenanya saat di awal masa pertukaran mahasiswa tersebut Andre mengaku merasa shock dan termotivasi untuk mengambil segala ilmu agar dapat diadopsi dan diterapkan di kampus asalnya. “Kita perlu untuk mengambil ilmu yang ada di sana dan terapkan di sini untuk merapikan sistem agar kita mampu berdaya saing,” tukasnya.
Editor: Maruly Zainuddin