Faktor-faktor pendukung ini dapat diperoleh melalui berbagai sumber yang salah satu diantaranya adalah melalui pelatihan atau Workshop Guru Profesional (WGP).
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda khususnya bidang Pendidikan Dasar Guru dan Tenaga Kependidikan (Dikdas GTK) secara intens memfasilitasi guru-guru agar mampu mengembangkan diri menjadi guru profesional dan mereka pun mengelar WGP di Aula Lantai 4 Gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda di Jalan Biola, Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota selama tiga hari pada 21-23 Februari pekan lalu.
Ada 90 guru dari jenjang SD dan SMA yang mengikuti WGP ini dan mereka sangat antusias karena materi-materi workshop yang disajikan merupakan pengetahuan baru yang sangat dibutuhkan dalam mengajar dan mendidik generasi zaman sekarang atau zaman now.
WGP menghadirkan narasumber yaitu Setiawati atau yang akrab disapa Bunda Wat dan Patmi Yati atau Bunda Patmi yang berasal dari Komunitas Guru Berkarakter,memberikan materi dengan metode yang variatif dan menyenangkan.
Pada hari pertama disajikan materi bagaimana menjadi guru yang berkarakter. Guru yang berkarakter akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter juga. Pendidikan karakter dapat berhasil jika dilaksanakan dengan dorongan niat yang kuat, memiliki ilmu tentang pendidikan karakter dan diwujudkan dengan action, pembiasaan dan pengulangan.
“Pembiasaan karakter baik bagi peserta didik harus dilaksanakan secara berulang-ulang dengan memberikan motivasi dan tauladan dari guru secara langsung (direct). Karakter-karakter yang baik dimulai dari hal-hal yang kecil, seperti menyusun sepatu sesuai instruksi, membuang sampah pada tempatnya masing-masing,merapikan tempat duduk, tepat waktu, dan lain sebagainya,” ujar Bunda Wati kepada Korankaltim.com Sabtu (25/2/2023) pagi tadi.
“Dari hal-hal yang kecil ini akan memberikan dampak yang besar berupa kebiasaan baik yang tidak hanya dilakukan di sekolah tetapi juga di rumah dan di masyarakat. Kita dapat mencontoh pendidikan karakter baik dari negara Jepang. Sejak usia dini mereka mendidik anak-anak/peserta didik untuk disiplin, jujur, bekerja keras, gigih, ulet, jasmani yang kuat, berani dan bertanggung jawab. Karakter-karakter inilah yang perlu dikembangkan untuk anak didik kita di Indonesia,” paparnya.
Cara mengembangkan karakter peserta didik menurut Bunda Wati dapat diusahakan dengan menumbuhkan budaya literasi. “Melalui budaya literasi peningkatkan pengetahuan, wawasan dan kemampuan guru tentang bagaimana implementasi karakter-karakter baik tersebut kepada anak-anak didik dapat terwujud,” jelasnya.
“Menumbuhkan budaya literasi baca tulis dan literasi lainnya juga merupakan salah satu upaya pengembangan diri sebagai pendidik. Pengembangan diri sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang guru profesional. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah mengatasi rasa takut, menghentikan kebiasaan buruk, melakukan hal-hal baru, belajar mencintai diri sendiri, menulis tujuan hidup dengan jelas, keluar dari zona nyaman, olahraga rutin, membaca buku setiap hari, memiliki mentor dan berlapang dada ketika mengalami kegagalan. Langkah-langkah ini selanjutnya akan menjadi refleksi guru dalam melakukan pengembangan diri peserta didik,” paparnya.
Dalam workshop hari kedua dilanjutkan dengan materi Ice Breaking, yaitu aktivitas pembelajaran untuk menunjang pembelajaran yang lebih fun, menyenangkan dan tanpa tekanan sehingga tercipta suasana belajar yang akrab, cair dan terjadi interaksi multi arah.
“Manfaat yang diperoleh adalah dapat mengkondisikan kelas agar siap untuk belajar. Kesiapan belajar akan menunjang keberhasilan guru dalam mentransfer pengetahuan dan informasi ke peserta didik. Namun untuk keberhasilan aktivitas pembelajaran Ice Breaking harus memperhatikan penggunaan waktunya, memberi instruksi harus jelas, memperhatikan antusias peserta didik dan sebelum dilaksanakan haruslah diuji coba terlebih dahulu. Setelah materi Ice Breaking, workshop dilanjutkan dengan,” ungkap Bunda Wati.
Guru profesional akan senantiasa optimis dan ikhlas dalam melaksanakan tugas dan berpikiran maju untuk mengembangkan kemampuannya. Selain mengajar dan mendidik, guru juga diharapkan memiliki kemampuan menulis. Menulis bagi kebanyakan orang dianggap sulit, namun melalui workshop ini peserta dilatih untuk menulis semudah tersenyum.
“Pada dasarnya menulis itu sama dengan bercerita, menulis dapat memuaskan hati dan dapat mengajak kepada kebaikan. Workshop hari kedua diakhiri dengan pendidikan parenting yang bertujuan meningkatkan kesadaran orangtua, meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta mempertemukan kepentingan dan keinginan antara pihak keluaraga dan sekolah,” jelasnya.
Program parenting yang dapat dilaksanakan seperti kunjungan rumah, field trip (wisata), Home Education Video, kelompok pertemuan orang tua dan lain sebagainya.
Sesi hari ketiga atau terakhir WGP menyajikan materi Pembelajaran Aktif, yaitu pembelajaran atau proses belajar berpusat pada peserta didik.
Tujuannya membuat peserta didik untuk berfikir, dapat melakukan, dapat mengamati dan dapat berinteraksi dengan guru dan peserta didik yang lain.
Pembelajaran aktif membutuhkan model pembelajaran yang dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar peserta didik, meningkatkan hubungan interpersonalnya, membangkitkan self esteem dan self confidencenya serta mendorong kemampuan problem solving dan creative thingkingnya. Model pembelajaran seperti ini yang dapat meningkatkan kualitas hasil belajar dan membentuk karakter peserta didik.
“Seorang guru dalam melaksanakan sebuah model pembelajaran harus memahami betul tahap-tahap pelaksanaannya agar pembelajaran berhasil sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapkan,” ujar Bunda Wati.
Selain pengetahuan khusus tentang penguasaan model pembelajaran, seorang guru juga harus memiliki kemampuan menyampaikan informasi dan mentransfer ilmu kepada peserta didik.
“Karena itu, melalui workshop ini guru dibekali juga dengan pengetahuan Public Speaking. Guru diharapkan agar dapat mengelola secara baik proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi berkualitas dan bermakna. Agar penyampaian informasi atau pengetahuan dapat diterima dengan baik, maka guru harus memperhatikan hal-hal seperti, penguasaan materi pembelajaran, penggunaan kata secara sederhana, melakukan eye contact, menggunakan pakaian yang nyaman, menggunakan alat bantu (media) dan menuliskan poin-poin yang akan disampaikan,” pungkas Bunda Wati.
WGP diakhiri dengan pembekalan pengetahuan Mengatasi Perundungan dan Pendidikan Anti Korupsi. “Rangkaian kegiatan WGP berjalan lancar dan menyenangkan karena selalu diawali dengan senam penyegaran, diselingi dengan model-model ice breaking, yel-yel penyemangat, penyajian materi interaktif, keaktifan dan kedisiplinan. Setiap akhir kegiatan peserta menyampaikan refleksi bagi pelaksanaan workshop ke depannya lebih baik dan bermanfaat,” pungkas Bunda Wati.
Sementara Bajuri, Kasi GTK Dikdas Dinas Pendidikan kota Samarinda berpesan kepada seluruh peserta WGP agar menjadi guru yang ikhlas, empati terhadap peserta didik dan legowo. “Sehingga peserta didik mudah dirangkul dan dibimbing serta diarahkan menjadi pelajar berkarakter sesuai amanat pendidikan nasional,” harap Bajuri.
Editor: Aspian Nur