Kegiatan tergelar dengan meriah, antusias mahasiswa terlihat saat auditorium 22 dzulhijjah UINSI Samarinda penuh untuk menyambut kehadiran syekh dari negeri keturunan rasul itu.
Dekan Fakultas Syariah UINSI Samarinda Bambang Iswanto mengapresiasi kegiatan itu dan meminta kepada mahasiswa untuk memanfaatkan momentum langka ini sebagai wadah menuntut ilmu terkait moderasi beragama.
"Hari ini merupakan hari bahagia karena kita kedatangan tamu yang mulia, Syeikh Ahmad bin Muhammad dari Baidho, Yaman. Mudahan ini akan mendatangkan keberkahan bagi Fakults Syariah Khususnya dan UINSI Samarinda pada umumnya," kata Bambang.
Moderasi beragama sejatinya merupakan materi yang terus digaungkan untuk menyongsong perdamaian beragama di Indonesia dari kelompok tertentu yang ingin memecah belah persatuan Indonesia.
"Dalam islam itu yang diajarkan moderasi dalam beragama islam adalah rahmatan lil 'alamanin. Saya kira seminar ini sangat tepat untuk wadah pembelajaran moderasi beragama," imbuhnya.
Lebih lanjut dalam penyampaiannya Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Faqir melalui penerjemah Al-Faqier Abdul Abdurrosyidin menjelaskan tidaklah sebuah agama dipandang dari penampilan kemudian bisa menjustifikasi seseorang melakukan perbuatan bid'ah. Mengamalkan akhlak Rasulullah merupakan tindakan yang wasathiyah (moderat) yang mampu menjaga kerukunan umat di bumi.
“Wasathiyah itu dari akhlak Rasulullah saw., senantiasa sabar dan berperilaku baik kepada siapa saja. Seseorang harus menjaga tiga perkara kepada orang yg mengucapkan laailaaha illallah, yakni darahnya, hartanya, dan harga dirinya,” pungkasnya.
Kegiatan berlangsung dengan khidmad, dihadiri lebih dari 400 mahasiswa UINSI Samarinda dan dimeriahkan oleh lantunan nasyid dan syair oleh grup Marawis.
Penulis: Linda Mulyani
Editor: Supiansyah