Kepemimpinan Transformatif yang Diterapkan oleh KH Ahmad Dahlan
4 menit baca2.136 kali dibaca

Oleh: Robertus Rebon
Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Dosen pengampu: Shanti Wardaningsih, Ns., M.Kep.,Sp.Jiwa.,Ph. D
PEMIMPIN dan Kepemimpinan menjadi elemen yang sangat penting terbentuknya suatu organisasi atau kelompok. Tahap kepemimpinan pada suatu kelompok atau organisasi terbentuk oleh seorang pemimpin. Kepemimpinan merupakan suatu tahapan ketika manusia mampu mempengaruhi orang lain atau masyarakat supaya mau bekerja sama agar tujuan dari organisasi atau kelompok tersebut dapat tercapai. Kepemimpinan transformatif adalah suatu model kepemimpinan yang mampu memberi inspirasi dan memberdayakan seseorang, masyarakat dan organisasi atau kelompok dengan cara mengubah pemikiran dan nilai-nilai organisasi menuju kemandirian.
Kepemimpinan yang transformatif tidak terlepas dari cara seseorang menjalankan semua komponen pada sebuah organisasi tertentu dengan harapan supaya gerakan di dalam berorganisasi selalu terjaga, dan oleh sebab itu minimal pimpinan mempunyai 4 elemen yang selalu ada dan selalu berhubungan satu dengan yang lainnya yaitu: Idealized Influence Charisma, Inspirational Motivation, Intellectual Stimullation, Individual Consideration. Jika hal ini bisa direalisasikan oleh pimpinan maka masa depan suatu organisasi bisa selalu bertahan dengan baik. Selain itu pula kepemimpinan transformasional yakni model kepemimpinan yang tanpa henti melakukan perubahan demi peningkatan sebuah organisasi. Dengan istilah lain selalu berkembang dan mau mengikuti perkembangan zaman baik dalam hal pengembangan secara struktural maupun pengembangan visi dan misi sehingga organisasi itu menjadi hidup.
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang terbentuk di Yogyakarta pada tanggal 18 Nopember 1912 dan di prakarsai oleh K. H. Ahmad Dahlan yang berciri khaskan gerakan Islam, gerakan dakwah, dan gerakan tajdid/pembaharuan. Secara historis latar belakang berdirinya Muhammadiyah adalah adanya kepercayaan masyarakat muslim di Indonesia yang beraneka ragam serta kondisi masyarakat Kauman-Yogyakarta pada saat itu yang sangat jauh dari kata kesejahteraan dan pendidikan.
Oleh sebab itu K. H. Ahmad Dahlan memiliki ide dan pemikiran utuk membangun organisasi pendidikan dan menciptakan Muhammadiyah sebagai sarana yang mempunyai tujuan untuk melepaskan negara Indonesia dari keadaan dan masalah di atas. Salah satu upaya yang dilakukan oleh K. H. Ahmad Dahlan ketika terciptanya organisasi Muhammadiyah yang dikenal dengan gagasan spirit Q.S. Al-Ma’un yang tujuan dari gagasan utama tersebut adalah munculnya gerakan sosial dengan cara menyantuni anak yatim, kaum mustad’afin dan janda di Yogyakarta pada waktu itu. Adapun dibagian pendidikan yaitu dilakukan dengan cara membangun sekolah Muhammadiyah tingkat dasar, madrasah mu’allimin/sekolah khusus calon guru (kweekschool Muhammadiyah) yang teknik belajarnya mengkolaborasikan antara ilmu agama serta ilmu pengetahuan, dan dibagian kesehatan dengan mendirikan rumah sakit Muhammadiyah. Langkah yang diciptakan oleh K. H. Ahmad Dahlan ini ternyara bisa memberi perubahan yang sangat signifikan pada waktu itu. Hal itu didasari oleh pemikirannya yang bergaya visioner-antisipatoris itulah yang menjadikan Muhammadiyah berkembang pesat sampai sekarang.
Ada tiga langkah yang digerakkan oleh K. H. Ahmad Dahlan dalam menerapkan kepada murid dan warganya di Muhammadiyah pada saat itu, yaitu: pengetahuan sejati tentang menyeimbangkan elemen kehidupan dapat dicapai melalui sikap kritis dan pikiran terbuka dengan menggunakan akal sehat dan fokus pada kebenaran dengan hati yang murni, akal sehat sebagai dasar kebutuhan hidup manusia, 'ilmu mantiq' atau logika merupakan salah satu mata pelajaran penting dalam pendidikan untuk akal manusia untuk melakukan pemikiran rasional. Sehingga mencapai esensi kepemimpinan transformatif/sharing of power dengan melibatkan seluruh elemen secara bersama-sama.
Perjuangan K. H. Ahmad Dahlan dalam hal kepemimpinan di Muhammadiyah menjadi sebuah aplikasi yang jelas bahwa seorang pemimpin itu harus mempunyai sikap visioning, yaitu memberikan rumusan masa depan; inspiring, yaitu senantiasa memotivasi diri dan bawahan; stimulating, yaitu berfikir maju dengan melahirkan ide-ide yang baru; coaching, yaitu melatih satu demi satu hingga sesuai dengan apa yang kita harapkan; dan team building, yaitu bekerja secara team/bersama-sama/saling bahu-membahu.
Oleh karena itu, masalah yang lebih penting bagi seorang pemimpin transformasional selalu mempunyai visi yang kuat, selalu berusaha ingin mengembangkan organisasi yang dipimpinnya, dengan demikian esensi kepemimpinan transformasionalnya mampu menghasilkan perubahan secarabersama-sama dalam artian mengalami perubahan ke arah yang lebih luas, lebih tinggi, dan lebih mendalam, serta lebih baik.
SUMBER PUSTAKA
Komsiyah, I. (2016). "Kepemimpinan Transformatif perkembangan dan implementasinya pada lembaga pendidikan." Ta'allum: Jurnal Pendidikan Islam 4(2): 293-316.
Rasyid, R. (2018). "Kepemimpinan Transformatif KH Ahmad Dahlan di Muhammadiyah." Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum 18(1): 50-58.
Suminto. 2016. Karakter Kepemimpinan Transformatif. Pedagogy : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 1–9.
Ali, M. 2016. "Membedah Tujuan Pendidikan Muhammadiyah". Profetika, Jurnal Studi Islam, 17(1), 43–56.
Anurkarina, F. W. 2015. "Perilaku Tokoh K. H. Ahmad Dahlan dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral."Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra Dan Pengajarannya, I(April), 34–42.
Huda, S. UIN S. A. S. 2011. Teologi Mustad’afin di Indonesia: Kajian atas TeologiMuhammadiyah.TSAQAFAH: Jurnal Peradaban Islam, 7(2), 345– 374. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v7i2 .8
Pribadi, S. A. T. 2010. "Kiprah K. H. Ahmad Dahlan dalam Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia".Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah










