“Pihak sekolah sudah bagus. Kalau dari segi sarana, saya kira semua sudah menyiapkan,” kata Rizal Effendi usai meninjau simulasi di SMPN 12, Senin (14/12).
Hanya saja siswa masih perlu diedukasi mengenai penerapan protokol kesehatan seperti cara cuci tangan yang benar hingga memakai masker susuai rekomendasi Kementerian Kesehatan.
“Masih ada yang pakai masker scuba. Padahal itu tak memenuhi syarat,” ungkapnya.
Begitu pula mengenai antisipasi terjadinya kerumunan. Para siswa mesti diberi pemahaman mengenai pentingnya menjaga jarak.
“Makanya tidak ada istirahat di luar. Tetap di dalam kelas dan bawa bekal dari rumah karena kantin tidak buka,” sebutnya.
Rizal yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Balikpapan ini mengaku sulit untuk menghindari kerumunan. Begitu pula ketika siswa berangkat ke sekolah.
“Juga yang paling diwaspadai adalah perjalanan siswa. Ini nanti bekerja sama dengan Dishub dan Organda agar protokol kesehatan diterapkan di angkutan umum,” ujarnya.
“Jangan sampai aman di rumah dan sekolah, tapi di jalan yang kurang aman,” sambung Rizal.
Sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan menggunakan metode rapid test kepada 2.696 guru. Hasilnya sebanyak 409 guru dinyatakan reaktif.
“Ada dua guru SD yang positif Covid-19 dan Dinas Pendidikan telah melarang sementara kepada yang bersangkutan untuk mengajar,” imbuhnya.
Kepala SMPN 12 Balikpapan, Azhari Z menambahkan yang ikut simulasi PTM hanya 50 persen dari 1.086 siswa dan setiap kelas berisi setengah dari kapasitas kursi.
“Ya, kami batasi. Jadi yang tidak ikut simulasi tetap belajar secara daring,” kata Azhari.
SMPN 12, lanjut Azhari, telah menyebarkan angket sebelum pelaksanaan simulasi dengan hasil 94 persen orang tua siswa setuju PTM dilaksanakan kembali.
“Hanya 6 persen yang tak setuju dan itu merupakan hak orang tua maupun siswa. Kami tetap fasilitasi untuk belajar jarak jauh atau daring,” pungkasnya.
Penulis : */Hendra
Editor : Bambang Irawan