Pierre menjelaskan ada beberapa aspek yang menyebabkan sektor pendidikan juga terpuruk selama pandemi, mulai dari orang tua, murid, guru, hingga perangkatnya.
Bagi orang tua, pandemi Covid-19 membuat orang tua menyediakan ruang dan waktu khusus untuk membimbing anaknya belajar.
Sementara untuk guru, harus belajar ekstra dan tidak semua guru siap dengan fasilitas pembelajaran di rumah. "Sedangkan untuk murid, mereka lebih senang belajar di sekolah karena bisa bertemu teman dan ada waktu untuk istirahat maupun olahraga," tambah dia.
Dia mengapresiasi pemerintah yang memberikan subsidi kuota internet kepada guru dan siswa. Sebelumnya, ketersediaan kuota internet menjadi kendala dalam pendidikan jarak jauh.
Dalam menghadapi pandemi, penyelenggara sekolah dengan kurikulum nasional dan internasional itu berinovasi dengan membuat inovasi seperti membuat platform yang membantu pembelajaran.
Sementara itu Direktur Utama Ghanesa Group, Bayu Rheksa Nugraha mengatakan pendapatan mereka berkurang hingga 90 persen akibat pandemi Covid-19. "Seharusnya tahun ajaran baru ini 'masa panen', namun kini 'gagal panen', karena sekolah juga ditutup dan pembelajaran dilakukan di rumah," kata Bayu.
Mengatasi hal itu, pihaknya berinovasi dengan meluncurkan program baru dengan menyasar masyarakat umum dan tidak lagi berorientasi pada siswa. Pihaknya menyediakan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat terutama pada masa pandemi Covid-19.
Editor: Bambang Irawan
Berita ini sudah tayang di republika.co.id hari Rabu 16 September 2020 dengan judul Pengelola: Wabah Covid-19 Bikin Bisnis Pendidikan Terpuruk