Kepala SD 018 Dusun Seburung, Desa Sebakung, Kecamatan Long Kali, Ngatemi yang dihubungi melalui sambungan telepon mengungkapkan ada 17 siswa yang harus menempuh jalur sungai untuk sampai di sekolah.
Sebelum menyeberangi sungai anak-anak harus melintasi jalan darat kurang lebih 3 kilometer. “Maklum namanya sekolah di hutan, jadi tidak terlalu banyak siswanya. Bahkan hanya ada tiga ruangan yang digabung dengan ruang guru dan ruang belajar. Saya sendiri sudah 22 tahun mengajar di sini. Jarak dari ibu kota kecamatan ke sini sekitar 15 kilometer,” terang Ngatemi. Jumat (11/1).
Ditanya apakah tidak pernah mengusulkan pembangunan jembatan, Ngatemi mengungkapkan ia sudah acap kali mengusulkan proposal ke pemerintahan desa setempat. Sampai-sampai pihak sekolah bersama warga urunan membeli sendiri perahu.
“Pernah sekolah mengusulkan pembangunan dermaga mini, dan pengadaan perahu, tapi belum bisa terealisasi, akhirnya sekolah mengadakan sendiri perahu, sudah empat perahu yang dibeli selama ini untuk menyeberangkan anak-anak kami,”ujar Ngatemi.
Ngatemi berharap ada perhatian Pemkab Paser untuk mencarikan solusi. Sebab, anak-anak bersekolah dengan resiko tinggi tercebur sungai yang ada buayanya.
“Saya harap Pemkab Paser bisa segera memberikan Solusi bagi anak didik kami ini. Apa lagi sungai ini sering kali muncul buayanya,” Pungkasnya. (dc1217)