Senin, 28/09/2026
Senin, 28/09/2026
Pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan di tengah kabut asap yang masih terjadi di Mahakam Ulu.(Foto: Julika/Korankaltim.com).
Senin, 28/09/2026

Pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan di tengah kabut asap yang masih terjadi di Mahakam Ulu.(Foto: Julika/Korankaltim.com).
Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Mahakam Ulu (Dinkes P2KB Mahulu) menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare masih berada dalam kondisi terkendali meski kabut asap akibat musim kemarau masih terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Dinkes P2KB Mahulu dr Petronela Tugan menjelaskan, hingga saat ini tren kasus ISPA dan diare masih bersifat fluktuatif dan belum menunjukkan lonjakan yang signifikan. "Kalau kasus ISPA dan diare masih dalam batas aman dan masih fluktuatif saja. Tidak terlalu signifikan naiknya," kata Petronela.
Satu diantara faktor yang diduga membantu menekan peningkatan kasus ISPA adalah kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) yang diterapkan selama kualitas udara memburuk.
Dengan berkurangnya aktivitas anak-anak di luar rumah, risiko paparan langsung terhadap kabut asap dinilai ikut berkurang. Namun Dinkes Mahulu tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kabut asap terhadap kelompok rentan.
Mereka yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan adalah balita, lansia, serta penderita penyakit pernapasan kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Pada kelompok tersebut paparan asap dapat memicu keluhan berupa batuk, sesak napas, hingga rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan.
"Yang paling rentan itu balita, lansia, kemudian yang punya riwayat asma atau PPOK. Biasanya mereka yang lebih merasakan dampaknya," jelasnya.
Sementara itu hasil pemantauan Surveilans Kualitas Udara Dalam Ruangan (SKUDR) yang dilakukan Dinkes menunjukkan kualitas udara sempat membaik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Namun hasil pengukuran di dalam ruangan belum menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kondisi udara luar karena sebagian besar pemeriksaan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memiliki ventilasi terbuka.
"Karena pemeriksaannya dilakukan di puskesmas dan ruangannya cukup terbuka, jadi perbedaan udara di dalam dan di luar tidak terlalu signifikan," sebut Petronela.
Perbedaan kualitas udara kemungkinan akan lebih terlihat apabila pengukuran dilakukan di ruangan tertutup yang dilengkapi pendingin ruangan atau penyaring udara.
Dinkes P2KB Mahulu terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat selama musim kemarau berlangsung. Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas di area yang masih terdampak kabut asap.
Editor: Aspian Nur
Senin, 28/09/2026
Pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan di tengah kabut asap yang masih terjadi di Mahakam Ulu.(Foto: Julika/Korankaltim.com).
TERPOPULER