Dalam sidak tersebut ditemukan ikan teri dengan bahan berbahaya yang dijual pedagang. Berdasarkan pernyataan dari Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, Marnabas Patiroy, penemuan tersebut hasil pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"BPOM ikut sidak jadi semua ikan kering diperiksa dan hasilnya ikan teri Medan ada bahan pengawet. Jadi saya minta semua teri Medan yang ada di pasar itu harus diperiksa lagi," kata Marnabas kepada Korankaltim.com .
Selain teri Medan, ditemukan hal serupa dari bahan dasar makanan yang sedang booming dikalangan market place yakni cumi kering, biasanya masyarakat mengolahnya menjadi sambal cumi asin dalam kemasan yang bisa tahan hingga satu pekan.
Beberapa tahun lalu juga terjadi hal yang serupa, usai dilakukan traking diketahui ada ikan berpengawet asalnya dari Kota Bontang, sedangkan kali ini diketahui berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
"Tapi ini baru dugaan, nanti kami perdalam lagi dari Disdag juga punya alat khusus untuk pemeriksaan lebih lanjut, nanti kita akan izin ke BPOM terkait pengadaan barang," papar Marnabas.
Kalau hanya bergantung dari BPOM tentu akan sulit, sebab untuk BPOM sendiri ruang lingkupnya sangat besar sehingga tidak memungkinkan untuk dimintai pemeriksaan setiap hari di lapangan.
Dari hasil temuan itu akan dilakukan tindaklanjut dan traking lagi, para pedagang nantinya bakal dimintai keterangan terkait asal pembelian teri Medan dan cumi kering tersebut.
"Seandainya dari penelusuran teri Medan dan cumi kering ini berada disemua pasar dan positif mengandung pengawet maka akan dilakukan penarikan, kami kembalikan ke penjual asalnya," tegasnya.
Marnabas mengaku setiap barang yang masuk harusnya melalui pemeriksaan, namun masih ada keterbatasan sehingga hanya bisa dilakukan secara sampel kecuali di Pasar Inpres di Merdeka yang sudah terjamin keamanan bahan pangannya.
Ia pun menyayangkan keterbatasan Disdag dengan adanya penemuan ini. Padahal, pihaknya rutin melakukan pemeriksaan di sejumlah pasar setiap pekan, bahkan dirinya juga sering turun langsung.
Editor: Aspian Nur