Pantauan Korankaltim.com Kamis (16/7/2022), di SPBU Jalan Kusuma Bangsa antrean kendaraan sepanjang 200 meter dimana Puluhan mobil berderet di tepi jalan. Pemandangan yang sama terlihat di SPBU lainnya.
Terkait hal ini, pengamat ekonomi Bernaulus Saragih kepada media ini menjelaskan, banyak kemungkinan terjadi saat kelangkaan BBM terjadi, diantaranya suplai yang kurang sementara permintaan masyarakat meningkat.
Kelangkaan ini pun dapat menimbulkan masalah baru bagi masyarakat. Pengguna BBM Pertalite dipaksa untuk berpindah ke BBM jenis lain yang harganya lebih tinggi dan bisa dimungkinan itu merupakan strategi baru dari Pertamina untuk menghilangkan Pertalite seperti saat penghapusan Premium dilakukan beberapa waktu lalu.
"Yang paling tahu tentu Pertamina, apakah mereka sedang mengurangi suplai atau distribusi berkurang. Dilihat data belum terjadi lonjakan atau pertambahan jumlah kendaraan secara signifikan dibanding tahun lalu," kata Bernaulus.
Kalau kelangkaan akibat ada peningkatan jumlah konsumsi masyarakat terhadap pembelian Pertalite itu bukan menjadi alasan karena itu bisa terjadi karena disribusi yang lambat dan berkurang dari Pertamina itu sendiri.
“Melihat fenomena yang terjadi sudah pasti Pertamina mengurangi distribusi jika distribusi lancar tidak mungkin ada kelangkaan dan kesulitan masyarakat terhadap pertalite," terangnya.
Kelangkaan BBM jenis Pertalite ini justru dapat berdampak negatif bagi perkembangan perekonomian masyarakat Samarinda. Dengan sulitnya mencari Pertalite kalau masyarakat berpindah untuk membeli BBM yang lebih mahal seperti Pertamax, Dexlite dan Pertamax Turbo sementara pendapatan masyarakat tidak meningkat hal ini berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.
Penurunan daya beli masyarakat ini tentu berdampak pada kemunculan kemiskinan baru. "Masyarakat bakal mengalokasikan pendapatan yang sangat terbatas kepada konsumsi BBM yang meningkat. Mau tidak mau akan mengurangi konsumsi yang lain, mungkin saja pemenuhan gizi dan makanan itu sudah prinsip dasar tata kelola keuangan setiap individu," ungkap Bernaulus.
Solusi yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan ini yaitu BBM subsidi harus tetap dipertahankan karena berdasarkan analisisnya masyarakat Indonesia belum memiliki kemampuan daya beli yang tinggi berbeda dibanding dengan negara-negara lain.
“Subsidi itu harus selalu dipertahankan, karena masyarakat belum memiliki kemampuan daya beli apabila harga BBM itu dibiarkan sesuai dengan harga pasar. Itulah perlunya subsidi karena daya beli masyarakat kita belum seperti singapura dan eropa,"pungkas Bernaulus.
Dikonfirmasi terpisah, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan Susanto August Satria menerangkan kuota BBM Pertalite di Samarinda dalam kondisi aman.
Pertamina menyalurkan BBM Subsidi Pertalite ke Samarinda dengan rata-rata realisasi setiap bulan sebanyak 12.500 kilo liter/ 12.500.000 liter. Kelangkaan terjadi akibat proses distribusi jalur laut yang terhambat akibat cuaca buruk.
"Rata-rata realisasi setiap bulan sebanyak 12.500 kilo liter/ 12.500.000 liter ke Samarinda dan itu tetap tersalurkan sampai hari ini. Tapi penyaluran ke SPBU ini selain lewat tangki ada juga stok yang berjalan dari kapal. Saat ini kapal yang akan sandar ini lagi mengalami kendala faktor cuaca," jelas Satria.
Meskipun terjadi kendala jalur laut Pertalite tetap disalurkan setiap harinya. Selain itu Pertamina juga harus berhati-hati mengeluarkan BBM Subsidi agar tepat pada sasaranya yang telah diatur oleh Pemerintah.
Sampai saat ini masih banyak oknum yang tidak menggunakan BBM subsidi berdasarkan keperluannya. Karena itu Pertamina perlu melakukan pengawasan lebih agar tidak merugikan masyarakat.
Penulis : Linda Mulyani
Editor: Aspian Nur