"Tujuan kunjungan ini untuk melihat langsung dan memastikan ketersediaan BBM di Samarinda. Hasilnya, antrean sudah mulai berkurang, mudahan selama bulan Ramadan sampai Lebaran lancar," harap Arifin kepada Korankaltim.com.
Dari hasil inspeksi mendadak (sidak) ke SPBU yang ada Arifin menyebutkan terdapat beberapa temuan, tetapi dirinya enggan untuk membeberkan. "Ada temuan, itu akan kami catat," ujarnya.
Selain itu ia pun memastikan jika stok BBM di Samarinda aman dan tidak ada masalah. "Asalkan jangan sampai bocor, artinya BBM bersubsidi ini jangan sampai ke orang yang tidak berhak. Kalau memang ada pelanggaran aparat yang akan menindak," tegas Arifin.
Dalam hal ini khusus bidang pertambangan tidak diperkenankan untuk menggunakan BBM bersubsidi dan harus memakai BBM industri.
"Karena komoditas tambang di internasional harganya baik tiga kali lipat, bahkan bisa lebih. Untuk itu jika ada, ya harus ditertibkan, jangan sampai bocor," sebutnya lagi.
Saat ini kementerian sedang mengkaji peraturan terkait dengan jenis dan kategori kendaraan yang bisa menggunakan BBM bersubsidi.
"Ada peraturan yang sedang diolah, kami persiapkan dalam waktu dekat, jadi nanti akan jelas, kriteria dan kategori jenis trasportasi yang bisa. Sehingga masyarakat kecil mendapatkan bantuan dengan harga yang sesuia," jelas Arifin.
Saat disinggung soal kenaikan harga BBM jenis pertamax dan diduga menjadi penyebab antrean, Arifin menyebutkan hal ini karena naiknya harga minyak mentah.
"Minyak mentah naiknya luar biasa, waktu masih covid itu drop (turun) sampe 20 dolar dan sekarang sudah melesat sampai pernah 130 dan saat ini kisaran 110-120 dolar per barel. Kemudian, ada recovery ekonomi tunggu global, yang kedua ada konflik geo politik Rusia-Ukraina dimana barang-barang migas Rusia di embargo, ini menyebabkan ketidakseimbangan suplai, karena berkurang harga melambung, bukan hanya itu saja sulit didapat, sehingga biaya produksi di kilang-kilang meningkat," tandasnya.
"Tetapi di Indonesia ini sudah paling murah harga bbmnya untuk tingkat Asean, makanya rawan bocor," pungkas Arifin.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur