“Meskipun memang masih perlu disokong pasokan sapi dari luar Kaltim. Seperti dari Pulau Sulawesi, atau NTT (Nusa Tenggara Timur) dan NTB (Nusa Tenggara Barat),” jelas Kepala DPKH Kaltim, Munawar, Rabu (30/6).
Meskipun stok sapi di Kaltim tergolong cukup aman, namun khusus untuk pemenuhan kebutuhan daging kurban, Munawar menyebutkan tentunya harus ada pemeriksaan lanjutan.
Karena biasanya sapi yang diperuntukkan sebagai hewan kurban harus memenuhi sejumlah unsur, mulai dari tingkat kesehatan yang harus bisa memastikan bahwa sapi tidak sakit, tidak cacat, dan bukan merupakan sapi betina.
“Nah itu nanti stoknya kami hitung lagi. Tapi secara umum masih aman ya,” imbuhnya. Secara umum, kebutuhan sapi di Kaltim bisa mencapai 300 hingga 350 ribu ekor sapi untuk per tahunnya.
Sedangkan yang dapat dipenuhi oleh peternak lokal, biasanya hanya pada angka 240 ribu ekor. Memang diakuinya ketersediaan sapi lokal Kaltim masih belum mencukupi. “Kalau kebutuhan kurban setiap tahun berbeda, tergantung permintaan masyarakat. Mungkin pandemi Covid-19 juga mempengaruhi ya,” jelas Munawar.
Meski begitu ia berpendapat, kemungkinan besar jika memang diperuntukkan untuk kurban, maka pandemi Covid-19 tidak akan memberikan pengaruh yang cukup drastis terhadap jumlah kebutuhan sapi kurban.
DPKH Kaltim pun menegaskan pihaknya akan terus berusaha mengambangkan peternakan sapi di kaltim. Supaya kedepannya, pemenuhan kebutuhan sapi di Kaltim tidak lagi tergantung dengan ketersediaan pasokan dari luar daerah. (*/kk)
Penulis : */Permata S Rahayu
Editor : Bambang Irawan