Investasi proyek sebesar 105 juta dolar Amerika tersebut akan mendukung 20 persen produksi WK Mahakam pada tahun 2024 mendatang.
Hari ini, telah dilakukan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Supply, Construction and Commissioning (EPSCC) dengan pemenang kontrak PT Meindo Elang Indah (MEI) di Jakarta.
PTH Direktur Utama PHM, Danar Dodjoadhi berharap, produksi migas dari proyek ini akan mampu menopang 20 persen produksi WK Mahakam di tahun 2024.
“pada saat produksi puncak, kontribusi dari ketiga anjungan ini diharapkan akan mencapai 120 MMSCFD,” katanya dalam rilis yang diterima Korankaltim.com.
Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Chalid Said Salim, menyampaikan pemenang kontrak ini adalah perusahaan dalam negeri. Dia bergembira akan hal ini.
"Ini penting untuk meningkatkan kapasitas perusahaan nasional agar memiliki kemampuan tidak hanya di kancah nasional, namun juga global," ujarnya.
Selain itu, kontrak EPSCC ini merupakan bagian penting dalam kegiatan produksi migas di WK Mahakam. Nilai kontrak mencapai 105 juta dolar Amerika, berdurasi 18 bulan, dengan komitmen TKDN sebesar 51,2 persen.
Realisasi proyek ini disambut baik Plt Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas, Sulistya Hastuti Wahyu.
Menurutnya, kendati di tengah pandemi Covid-19, kegiatan ini sekaligus merealisasi satu bagian yang harus dilakukan SKK Migas dan KKKS untuk mendukung pencapaian target produksi 1 juta barel pada tahun 2030.
SKK Migas juga mendorong penggunaan tenaga kerja dan bahan baku dalam negeri agar target kandungan lokal melebihi target yang diharapkan.
“Kami juga memberikan apresiasi kepada PHM yang dapat melaksanakan proses tender ini secara tepat waktu yaitu selama 88 hari,” terangnya.
KKKS tersebut mampu menghasilkan potensi efisiensi dari tender tersebut sebesar 17,6 juta dolar Amerika terhadap owner estimate yang diusulkan kepada SKK Migas pada saat persetujuan rencana tender.
PHM membuat berbagai upaya efisiensi dari sisi desain sehingga anjungan yang dibangun lebih ringan 66 persen, disesuaikan dengan kapasitas cadangan gas yang ada.
Gas yang diproduksi dari proyek JSN ini akan disalurkan ke kilang pengolahan PT Pertamina Refinery Unit (RU) 5 di Balikpapan.
Dalam pelaksanaannya nanti, kegiatan ini diharapkan dapat terealisasi sesuai rencana dan tidak terjadi keterlambatan. Rencananya, kegiatan ini memakan waktu 2,3 juta jam kerja.
"Tentunya kami tetap meminta agar pelaksanaan kegiatan berpedoman pada protokol kesehatan karena masalah kesehatan dan keselamatan kerja merupakan hal utama yang tidak bisa ditawar di sektor hulu migas," tegasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi