Kamis, 24/09/2026

Secara Nasional Antrean BBM di Berau Terparah Kedua Setelah Makassar

Kamis, 24/09/2026

Sejumlah kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM di salah satu SPBU Sambaliung, Kabupaten Berau. (Indri/Korankaltim).

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Secara Nasional Antrean BBM di Berau Terparah Kedua Setelah Makassar

Kamis, 24/09/2026

logo

Sejumlah kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM di salah satu SPBU Sambaliung, Kabupaten Berau. (Indri/Korankaltim).

Penulis : Indri

KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – PT Pertamina Patra Niaga mencatat penyaluran bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Berau mengalami peningkatan dalam dua hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah masih munculnya antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). 

Sales Branch Manager (SBM) III Fuel Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) PT Pertamina Patra Niaga Hermawan Bagus mengatakan, peningkatan penyaluran menjadi satu diantara indikator kalau persoalan antrean tidak semata-mata dapat dilihat dari sisi ketersediaan stok. Berdasarkan data Pertamina, realisasi penyaluran pada 21 September 2026 untuk SPBU Pertalite mencapai 100 kiloliter (KL), sementara penyaluran Pertamax melalui SPBU tercatat 74 KL dan Pertamax melalui Pertashop sebanyak 17 KL. 

Sehari berikutnya, 22 September, penyaluran Pertalite melalui SPBU meningkat menjadi 126 KL. Adapun Pertamax melalui SPBU mencapai 50 KL dan Pertamax melalui Pertashop 21 KL. Itu artinya dalam dua hari penyaluran Pertalite melalui SPBU mencapai 226 KL atau setara sekitar 226 ribu liter. Angka tersebut jauh di atas rata-rata penyaluran Pertalite yang selama ini berada di kisaran 72–88 KL per hari. Pada 23 September, Pertamina juga merencanakan penyaluran Pertalite melalui SPBU sebesar 100 KL, Pertamax melalui SPBU 58 KL, serta Pertamax melalui Pertashop 18 KL. 

Hermawan mengatakan peningkatan penyaluran tersebut perlu dilihat secara bersamaan dengan kondisi di lapangan. Sebab, meski pasokan ditingkatkan, antrean kendaraan masih ditemukan di sejumlah SPBU. “Stok dan penyaluran sebetulnya sangat oke dibandingkan sebelumnya,” kata Hermawan lagi Kondisi penyaluran BBM di Berau dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian karena tingginya permintaan dan antrean. Bahkan, menurutnya, kondisi penyaluran di wilayah tersebut termasuk yang paling berat secara nasional setelah Makassar. 

Pertamina pun meminta pemerintah daerah dan pihak terkait ikut melihat hubungan antara jumlah stok, volume penyaluran, serta pola pembelian masyarakat. Terdapat perubahan pola pembelian BBM di lapangan. Sebelumnya, pembelian Pertalite disebut lebih banyak berada di kisaran 25 liter. 

Setelah batas pembelian disesuaikan menjadi 40 liter, kondisi di sejumlah SPBU justru menunjukkan fenomena berbeda. Di sisi lain, Pertamina menyatakan data penyaluran dapat dibuka untuk menjadi bahan evaluasi bersama. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan apakah persoalan antrean benar-benar berkaitan dengan keterbatasan pasokan atau terdapat faktor lain di lapangan. “Kita lihat bersama, apakah dengan penyaluran sebanyak ini antrean masih terjadi atau ada fenomena lain,” ujarnya. 

Pertamina berharap pemerintah, aparat, dan masyarakat dapat melihat persoalan tersebut berdasarkan data penyaluran aktual di masing-masing SPBU. Dengan demikian, evaluasi distribusi BBM di Berau tidak hanya berfokus pada panjangnya antrean, tetapi juga mencermati volume pasokan yang telah disalurkan. “Harapannya, stok dan penyaluran kita di lapangan bisa dilihat bersama,” pungkas Hermawan. 

Editor: Aspian Nur

Secara Nasional Antrean BBM di Berau Terparah Kedua Setelah Makassar

Kamis, 24/09/2026

Sejumlah kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM di salah satu SPBU Sambaliung, Kabupaten Berau. (Indri/Korankaltim).

Share

Berita Terkait