Mengusung tema “Reconnecting to Quality and Sustainable Tourism”, pameran pariwisata bisnis ke bisnis (B2B) tersebut bertujuan untuk mempertemukan para pelaku industri pariwisata, baik regional, nasional, maupun internasional.
Targetnya, acara ini dapat mempertemukan 250 sellers dengan 350 buyers dari 50 negara untuk melakukan transaksi bisnis dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,77 triliun. Target ini meningkat 29,6 persen dibandingkan dengan pencapaian BBTF 2022 yang sebesar Rp 5,22 triliun.
Meski belum digelar, Ketua Komite BBTF 2023 I Putu Winastra mengatakan, BBTF 2023 sudah mendapat respons positif dari berbagai stakeholder sehingga BBTF mampu mempertahankan posisi sebagai marketplace di Indonesia.
“Kita miliki acara trade show bertaraf dunia di Indonesia yang diadakan oleh anak bangsa, menghemat devisa. Jadi, bukan kita yang ‘berjualan’ ke luar negeri, tetapi acara ini membuat pembeli datang ke Indonesia,” jelas Winastra yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ASITA Bali dikutip Grid.id.
Untuk menarik minat para pelaku wisata dari seluruh dunia, Indonesia melalui BBTF 2023 pun memperkenalkan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) serta pengembangan topik wisata kesehatan dengan mengangkat kebugaran (wellness) dan wisata medis (medical tourism) sebagai respons permintaan pasar. “Bali akan terus melakukan diversifikasi pertumbuhan ekonomi lewat pariwisata yang bukan hanya tergantung kepada jumlah kedatangan (turis), tetapi juga quality tourism,” imbuh Winastra.
Editor: Maruly Zainuddin