Namun sayang, kedatangan Koran Kaltim siang itu belum mujur karena tak bisa menyaksikan langsung kumpulan ibu-ibu melakukan kegiatannya menganyam daun nipah untuk dijadikan ketupat sebagai mana biasa mereka lakukan sehari-hari mengisi hari.
Ya. Aktifitas menganyam warga pekan ini sedang terhenti sementara waktu karena tidak adanya bahan baku berupa daun nipah yang biasa mereka beli dari lelaki paruh baya yang biasa dipanggil warga dengan sebutan Kai (baca:kakek). Kai inilah yang kerap menjual daun nipah kepada mereka. Hampir sepekan, mesin kapal yang biasa digunakan Kai menyusuri anak sungai Mahakam dan masuk ke dalam hutan mencari daun nipah sedang rusak dan kapal harus diperbaiki.

Ketua Koperasi Produsen Prima Ketupat Sejahtera, Ence Kumala menuturkan, setidaknya ada 43 anggota koperasi yang terdiri para ibu-ibu rumah tangga yang aktivitasnya setiap hari menganyam ketupat. Mereka inilah yang biasa mengambil upahan alias menjual jasa kepada koperasi. Di luar koperasi ini, masih di kampung ketupat, ada puluhan ibu-ibu rumah tangga lainnya yang juga menggeluti profesi serupa yang mereka warisi secara turun temurun.

Untuk 100 biji ketupat ukuran kecil yang sudah selesai dianyam, upahnya dihargai Rp6 ribu. Sedangkan untuk 100 biji ketupat ukuran besar yang sudah selesai dianyam dihargai Rp10 ribu. “Koperasi yang sudah kami dirikan selama 4 tahun ini adalah koperasi simpan pinjam, jadi jika ada anggota yang meminjam uang koperasi, bayarnya bisa pakai ketupat saja,” kata Ence Kumala, pada Koran Kaltim, Kamis (24/9).
Dia menceritakan, selama pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, permintaan ketupat jauh berkurang jika dibandingkan kondisi normal sebelum pandemi. Bahkan kata Ence, sudah seperti siklus tahunan, setiap memasuki bulan Muharram dan Safar seperti saat ini, koperasinya selalu sepi orderan.
“Tidak tahu kenapa setiap bulan Muharram dan Safar penjualan ketupat pasti sepi, kalau selain itu (Muharram dan Safar) ada saja permintaan dari pasar, apalagi kalau hari raya ketupat, kami pasti stok banyak,” ungkap Ence didampingi Bendahara Koperasi, Samsiah.

Ketupat hasil buatan anggota koperasi ini biasa dijual lagi ke sejumlah pasar yang ada di Samarinda seperti Pasar Segiri, Pasar Sungai Dama dan meja-meja warung penjual Coto Makassar serta Soto Banjar yang panganan utamanya dari ketupat. Di pasar, untuk 100 ketupat ukuran kecil dijual kepada pedagang seharga Rp13 ribu, sementara untuk ketupat ukuran besar dijual ke pedagang pasar Rp35 ribu untuk 100 biji ketupat.
“Kalau pembeli ketupat kecil kebanyakan pemilik warung coto Makassar, biasanya kami jualnya agak lebih mahal antara Rp20-25 ribu, karena biasanya kami yang antar dan menanggung biaya transportasinya untuk pengantaran diseputaran Samarinda,” terang Ence menambahkan.
Dia juga menjelaskan, area pemasaran ketupat tidak hanya di wilayah Samarinda saja, bahkan sudah merambah ke bebeberapa daerah lain seperti Bontang, Sangatta, Muara Wahau, Balikpapan, Tenggarong hingga Banjarmasin.
Menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha, pihak koperasi bisa menyetok ribuan ketupat ukuran besar dan kecil untuk memenuhi permintaan pasar selama bahan baku daun masih ada. Bahan baku daun inilah kata Ence yang selalu menjadi kendala seperti yang terjadi saat ini karena tak ada yang menjual. “Kami biasanya beli daun nipah sama Kai saja, setiap minggu pasti ada Kai jual daun. Tapi sekarang ini lagi rusak kapalnya,” tuturnya.
Dalam satu kapal, biasa membawa sebanyak 60 ikat daun nipah dengan isi sekitar 700-800 lembar per ikatnya. Daun nipah inilah yang dibeli pihak koperasi termasuk ibu-ibu setempat. Harga satu ikat daun nipah ini biasa dibeli seharga Rp30 ribu.
Soal bahan baku daun nipah ini, dia juga mengakui agak sedikit kesulitan mendapatkannya. Selama ini, penjual daun nipah biasanya mendapatkan bahan baku dari daerah Kecamatan Muara Jawa, Dondang, Pendingin, Muara Segara dan Muara Kembang.
Untuk satu lokasi pengambilan daun nipah ini, hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan selama tiga bulan. Setelahnya, pengambil daun nipah liar ini harus mencari lokasi baru lagi sembari menunggu lokasi awal tumbuh kembali daun nipahnya seperti sedia kala.
“Kita ambil daunnya saja, sebelum dianyam menjadi ketupat harus dijemur dulu sampai kering. Dulu lidinya kami manfaatkan juga untuk membuat piring anyaman, tapi sekarang permintaan piring anyaman sepi karena sudah ada piring dari bahan plastic. Jadi kami tidak buat lagi,” jelasnya.
Namun sayang, meski usaha membuat ketupat ini ikut memberdayakan dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat, perhatian dari pemerintah dirasa masih sangat minim khususnya menyangkut permodalan dan dukungan pemasaran.
Nah, buat Anda warga Kota Samarinda dan sekitarnya, manfaatkan akhir pekan ini untuk jalan-jalan ke kampung ketupat. Selain bisa membeli ketupat, Anda juga bisa berfoto-foto di tugu ketupat yang ada di kampung tersebut. Happy Weekend.
Penulis: */Maruly Zainuddin / Korankaltim.com