Para peneliti mengatakan meskipun perubahan ini sangat kecil, hal itu dapat memengaruhi segala hal mulai dari sistem satelit dan akurasi GPS hingga cara kita mengukur waktu itu sendiri. “Tidak ada yang mengharapkan ini terjadi, penyebab percepatan ini belum dijelaskan,” ujar Leonid Zotov, seorang ilmuwan dari Universitas Negeri Moskow melansir dailymail.co.uk Jumat (4/7/2025) hari ini.
Sejak 2020, para ilmuwan telah memperhatikan Bumi berputar sedikit lebih cepat dari biasanya, tetapi penyebabnya tetap menjadi misteri hingga hari ini. Sebelum itu, planet ini melambat seiring waktu akibat tarikan gravitasi bulan yang memperpanjang hari menjadi siklus 24 jam yang kita gunakan saat ini.
Bumi biasanya membutuhkan 24 jam atau tepatnya 86.400 detik untuk menyelesaikan satu putaran penuh, yang disebut hari matahari. Rotasi Bumi tidak selalu sempurna, karena dapat bergeser sedikit seiring waktu beberapa milidetik. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pengaruh kekuatan alam seperti gempa bumi dan arus laut, terhadap rotasi Bumi.
Gletser yang mencair, pergerakan di inti cair Bumi dan pola cuaca besar seperti El Niño juga dapat sedikit mempercepat atau memperlambat rotasi planet ini. Perubahan ini diukur menggunakan jam atom, yang melacak waktu dengan lebih akurat daripada jam biasa. Peningkatan rotasi baru-baru ini mengejutkan para peneliti.
Hari tercepat yang tercatat sejauh ini terjadi pada 5 Juli 2024 lalu ketika Bumi berputar 1,66 milidetik lebih cepat dari standar 24 jam. Meskipun para ilmuwan tidak mengetahui alasan pasti percepatan ini, mereka sedang meneliti apa yang terjadi di dalam Bumi, termasuk pergeseran lapisan cair di inti, arus laut dan angin ketinggian tinggi yang memengaruhi rotasi Bumi.
Bumi tidak sepenuhnya padat. Inti Bumi terbuat dari logam cair panas yang berputar. Saat logam cair tersebut bergerak, ia dapat mengubah bentuk dan keseimbangan planet, mirip dengan cara seorang penari es berputar lebih cepat dengan menarik lengan mereka.
Arus laut dan jet stream, aliran udara cepat di atmosfer juga memindahkan massa di seluruh planet, menyebabkan getaran kecil atau perubahan kecepatan rotasi.
Para ilmuwan sedang menganalisis semua faktor ini bersama-sama termasuk orbit bulan, aktivitas inti, aliran laut dan pola angin untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Sejak 2020, Bumi mulai memecahkan rekor hari terpendeknya. Pada tahun itu, tanggal 19 Juli lebih pendek 1,47 milidetik. Pada 9 Juli 2021, terjadi penurunan 1,47 milidetik. Pada 2022, Bumi mencatat hari terpendeknya pada 30 Juni, dengan pengurangan 1,59 milidetik dari 24 jam biasa.
Pada 2023, rotasi melambat sedikit dan tidak ada rekor baru yang tercipta. Namun pada 2024, kecepatan rotasi kembali meningkat. Beberapa hari memecahkan rekor sebelumnya, menjadikan tahun tersebut sebagai tahun dengan hari-hari terpendek yang paling konsisten yang pernah diukur.
“Perkiraan ini didasarkan pada pengamatan masa lalu dan model computer serta mencakup koreksi sistematis dan penyaringan untuk memperhitungkan fluktuasi alami,” kata Jones menggunakan data dari Observatorium Angkatan Laut AS dan layanan rotasi Bumi internasional.
Jam atom melacak angka-angka tersebut, dan alat-alat tersebut mengukur apa yang disebut Length of Day (LOD). Itu adalah waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berputar sekali hingga milidetik.
Bahkan perubahan kecil dalam panjang hari pun penting. GPS, jaringan telepon dan sistem keuangan bergantung pada akurasi sepersekian detik. Pergeseran hanya beberapa milidetik dapat menyebabkan gangguan teknis.
Saat ini, dunia menggunakan Coordinated Universal Time (UTC) atau Waktu Universal Terkoordinasi untuk mengukur waktu. Terkadang kita menambahkan detik kabisat untuk tetap sinkron dengan pergeseran lambat Bumi.
Jika Bumi terus berputar lebih cepat, para ahli mungkin harus menghapus detik, yang disebut detik kabisat negative da itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Tren jangka panjang lebih familiar. Miliar tahun yang lalu, Bumi berputar begitu cepat sehingga sehari hanya berlangsung beberapa jam. Hal ini terjadi karena tarikan gravitasi bulan.
Sekarang atau saat ini, sesuatu di dalam Bumi mungkin mempercepat rotasinya kembali. Namun peneliti mengatakan model atmosfer dan lautan saat ini tidak menjelaskan apa yang terjadi. “Suatu saat, Bumi akan melambat,” kata Zotov. Namun untuk saat ini rotasi Bumi terus mempercepat.
Editor: Aspian Nur