Adalah tim peneliti dari The University of Texas at Austin yang merekrut 260 orang dewasa berusia antara 23 dan 67 tahun untuk berpartisipasi dalam studi mereka.
Mereka secara acak ditugaskan untuk membaca 15 pertukaran pesan teks yang mana semua pesan tersebut berisi teks yang sama, tetapi setengah diantaranya menyertakan emoji sementara setengah lainnya tidak.
Peserta diminta untuk membayangkan diri mereka sebagai pengirim setiap pesan dan fokus pada balasan pasangan mereka. Analisis menunjukkan orang menilai pasangan yang menggunakan emoji sebagai seseorang yang lebih responsif daripada pasangan yang berkomunikasi hanya melalui teks.
Penggunaan emoji juga terkait dengan peningkatan kedekatan dan kepuasan hubungan. Menariknya, tidak ada perbedaan signifikan antara penggunaan emoji wajah dan non-wajah, misalnya emoji senyum dan hati cinta yang menunjukkan jenis emoji yang digunakan mungkin kurang kritis daripada yang sebelumnya diduga.
“Sebaliknya, mungkin saja kehadiran emoji itu sendiri yang mendorong persepsi responsivitas yang lebih baik dan hubungan yang lebih baik,” kata para peneliti melansir dari laman dialymail.co.uk Kamis (3/7/2025) hari ini.
Mereka menjelaskan emoji tidak hanya berfungsi sebagai alat ekspresi tetapi juga sebagai sinyal perhatian dan keterlibatan. “Studi ini menunjukkan emoji dapat meningkatkan kepuasan hubungan dengan menunjukkan perhatian emosional,” papar peneliti dalam jurnal PLOS One. “Menariknya, bukan jenis emoji yang penting, tetapi kehadiran emoji itu sendiri yang membuat orang merasa lebih dekat dengan pasangannya,” tulis mereka lagi.
Temuan mereka dapat dijelaskan melalui fakta emoji menyampaikan emosi yang sulit diekspresikan melalui teks saja sehingga pesan terasa lebih personal dan penuh pertimbangan.
Emoji juga dapat meningkatkan daya tarik emosional pesan, memicu respons emosional yang lebih kuat dan membuat percakapan lebih hidup dan menarik. Pada akhirnya, emoji dapat membantu mengklarifikasi nada dan niat pesan, mengurangi risiko kesalahpahaman.
“Menambahkan emoji hati, wajah tersenyum, atau emoji sederhana lainnya dapat membuat pesan terasa lebih personal dan menarik. Simbol sederhana seperti jempol ke atas atau kilauan dapat secara efektif menyampaikan positif dan keterlibatan bahkan dalam percakapan Santai,” papar mereka.
Para ahli baru-baru ini memperingatkan untuk tidak mengirim emoji wajah tersenyum kepada orang tertentu, sementara Generasi Milenial dan generasi yang lebih tua melihat wajah tersenyum sebagai ekspresi kebahagiaan, Generasi Z yang berusia antara 13 dan 28 tahun – cenderung mengartikannya sebagai tanda sarkasme atau ironi.
Erica Dhawan, penulis buku Digital Body Language: How to Build Trust and Connection, No Matter the Distance menjelaskan kalau generasi yang lebih tua cenderung membaca emoji sebagai representasi objek yang secara harfiah digambarkannya.
Artinya emoji wajah tersenyum adalah senyuman bahagia, emoji salju berarti sedang turun salju dan emoji terong merujuk pada jenis sayuran. Namun bagi mereka yang tumbuh besar dengan berkirim pesan melalui media sosial, emoji sering memiliki makna lain yang telah berkembang seiring waktu.
Emoji lain yang bisa terdengar sarkastis adalah emoji sparkle yang bentuknya seperti bintang. Pengguna yang lebih tua sering menggunakan emoji sparkle yang imut ini untuk mengekspresikan emosi positif seperti rasa syukur atau kegembiraan.
Namun bagi Gen Z, emoji ini lebih sering diartikan sebagai pernyataan yang bernada sarkastis, sama seperti anggota forum pesan internet lama yang biasa menambahkan ‘/s’ setelah pernyataan.
Hal yang sama berlaku untuk emoji jempol ke atas yang digunakan oleh pengguna yang lebih tua untuk mengekspresikan afirmasi positif, tetapi sering dianggap sarkastis oleh Gen Z.
Editor: Aspian Nur