Pengusaha teknologi dari Inggris Ian Hogarth yang sudah lima pekan menjalankan perannya sebagai ketua gugus tugas AI di negaranya menegaskan tidak dapat dihindari lebih banyak pekerjaan akan menjadi semakin otomatis imbas kemajuan teknologi yang membuat seluruh dunia harus memikirkan kembali cara orang agar tetap bekerja.
"Akan ada pemenang atau pecundang secara global dalam hal di mana pekerjaan berada sebagai hasil dari AI," kata Hogarth.
Sudah ada beberapa laporan tentang hilangnya banyak pekerjaan akibat perusahaan yang memilih untuk menggunakan alat bantu AI daripada manusia. BT, perusahaan telekomunikasi di Inggris bahkan bersiap memecat sekitar 10 ribu staf pada akhir dekade ini sebagai akibat dari teknologi tersebut.
Namun pihak lain percaya perkembangan ini juga akan mengantarkan banyak pekerjaan baru bagi manusia yang saat ini belum ada, seperti halnya kemunculan internet.
Sebuah laporan yang dirilis awal tahun ini oleh Goldman Sachs menunjukkan 60 persen dari pekerjaan yang ada saat ini tidak ada pada tahun 1940.
Hogarth, seorang pengusaha teknologi dan investor AI, mengatakan tujuan dari gugus tugas baru ini adalah untuk membantu pemerintah lebih memahami risiko yang terkait dengan sistem AI dan meminta pertanggungjawaban perusahaan.
Hogarth khawatir tentang potensi AI yang dapat menyebabkan kerugian, misalnya dengan salah tangkap jika digunakan dalam penegakan hukum atau menghasilkan kode komputer berbahaya yang mengakibatkan peningkatan kejahatan dunia maya.
Khususnya dalam bidang kesehatan, perangkat AI dapat mengidentifikasi antibiotik baru, membantu orang yang mengalami kerusakan otak untuk mendapatkan kembali kemampuannya untuk bergerak dan dilatih untuk mengenali gejala awal penyakit.
Hogarth mengatakan ia pernah membuat alat yang dapat mengidentifikasi tanda-tanda kanker payudara melalui pemindaian.
Kelompok yang akan dipimpinnya telah diberi dana awal sebesar 100 Juta Poundsterling, setara dengan hampir Rp2 Triliun, untuk mengawasi penelitian keamanan AI.
Hogarth tidak mengatakan bagaimana dia menggunakan uang tersebut, tetapi dia berpikir dia akan tahu apakah dia telah berhasil dalam pekerjaannya jika rata-rata orang di Inggris mulai merasakan manfaat dari AI".
Perdana Menteri Rishi Sunak telah menjadikan AI sebagai prioritas utama dan ingin Inggris menjadi pusat global untuk sektor ini.
Editor: Aspian Nur