Dengan berlangganan Twitter Blue, tweet yang diedit akan menampilkan ikon dan stempel waktu saat postingan terakhir diedit dan pengguna dapat mengklik label tweet yang diedit untuk melihat riwayat pengeditan dan versi postingan sebelumnya.
Tombol edit sejatinya menjadi fitur yang paling dicari oleh pengguna, tetapi beberapa pengguna khawatir fitur itu dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah dengan membiarkan pembuat tweet mengubah pesan setelah menjadi viral.
Twitter, bagaimanapun, percaya kemampuan untuk melihat versi yang tidak diedit akan menghentikan penyebaran informasi palsu, tetapi fitur ini masih sangat baru dan belum jelas bagaimana digunakan.
Rachel Torac, CEO SocialProof Security kepada The Washington Post menjelaskan tentang bagaimana tweet yang diedit dapat mendatangkan malapetaka di Twitter: “Kalau seseorang akan men-tweet dan menjadi viral, lima belas hingga 20 menit kemudian bisa mengubahnya menjadi penipuan kripto, tautan phishing, disinformasi pemungutan suara,” papar Rachel
Launching Twitter Blue digelar hanya dua hari setelah Tombol Edit dirilis di Kanada, Australia dan Selandia Baru dimana Twitter mengumumkan awal tahun ini mereka akan membawa tombol edit ke Twitter Blue dan mulai mengujinya dengan sekelompok kecil pengguna September lalu.
Tweet yang diedit ditandai dengan simbol pena kecil, sehingga jelas bagi semua pengguna Twitter tweet asli telah dimodifikasi. “Pengguna juga dapat melihat versi tweet sebelumnya, membuat catatan yang dapat diakses publik tentang apa yang dikatakan dan melindungi integritas percakapan,” ucap Twitter.
Dengan mengklik tweet, pengguna dapat melihat riwayat edit. Namun pengeditan hanya tersedia untuk tweet dan bukan untuk postingan lain seperti retweet, balasan dan utas.
Jack Dorsey, yang mengundurkan diri sebagai CEO Twitter November lalu, telah bersikeras selama bertahun-tahun bahwa tombol edit tidak akan datang ke Twitter.
Pada tahun 2018, Dorsey membahas kemungkinan tombol edit di sebuah acara dan mengatakan jika Twitter akan merilis fitur seperti itu, ditujukan untuk memperbaiki kesalahan ejaan yang sejatinya tujuan dari munculnya tombol edit.
Namun, Dorsey juga merasa fitur tersebut dapat digunakan untuk kejahatan, memungkinkan orang untuk berpotensi mengubah arti dari tweet yang sudah dibagikan sebelumnya.
Dorsey mengatakan jika Twitter pernah menambahkan opsi melarang pengeditan tanpa batas. “Anda harus memperhatikan apa kasus penggunaan untuk tombol edit,' kata Dorsey. “Banyak orang menginginkan tombol edit karena mereka ingin segera memperbaiki kesalahan yang mereka buat. Seperti salah mengeja atau menge-tweet URL. Itu jauh lebih bisa dicapai daripada mengizinkan orang untuk mengedit tweet apa pun,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, tahun 2021 Twitter secara resmi meluncurkan layanan berlangganan Twitter Blue di empat negara - AS, Kanada, Australia dan Selandia Baru.
Twitter Blue, yang tersedia untuk iOS, Android dan web, membebankan biaya bulanan sebesar $2,99 kepada pengguna untuk mengakses fitur eksklusif, termasuk 'Undo Tweet', yang memberi pengguna kesempatan untuk membatalkan tweet jika mereka berpikir dua kali.
Twitter Blue juga menyertakan Bookmark, yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan tweet individual ke dalam folder dan Mode Pembaca, yang mengubah utas tweet menjadi tampilan seperti artikel.
Editor: Aspian Nur