Dries Depoorter menciptakan perangkat lunak kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mencocokkan foto Instagram seseorang dengan rekaman yang diambil dari CCTV tersebut. Hasilnya adalah serangkaian foto kompilasi orang-orang yang berpose di landmark diseluruh dunia.
Setengah dari gambar menunjukkan postingan Instagram mereka, sementara yang lain menunjukkan mereka berpose untuk foto seperti yang terlihat melalui kamera CCTV.
Untuk membuat proyek The Follower ini, Depoorter memulai dengan merekam feed kamera yang bersifat publik dan disiarkan langsung secara online. Ini termasuk rekaman CCTV 24 jam yang diambil di Times Square di New York City dan di luar pub Temple Bar yang terkenal di Dublin.
Seniman itu kemudian mengangkat foto-foto Instagram yang ditandai dengan lokasi kamera dan menggunakan perangkat lunak AI untuk referensi silang. Depoorter melatih alat untuk memindai rekaman saat setiap foto diambil dan kemudian menggabungkan keduanya.
Sebuah halaman di situs web Depoorter menyajikan setengah lusin contoh di mana AI dapat mencocokkan rekaman dengan posting Instagram.
Hasilnya adalah visual yang sejatinya menakutkan karena menunjukkan seberapa sering kita diawasi saat berjalan di jalan-jalan kota. Depoorter yang meluncurkan proyek ini awal pekan tadi mengatakan, hasilnya sejauh ini dibuat hanya dengan menggunakan data 10 hari.
Perangkat lunak ini berfokus pada influencer Instagram yang memiliki lebih dari 100.000 pengikut. "Ide itu muncul dikepala saya ketika saya melihat kamera terbuka dan seseorang mengambil gambar selama 30 menit," kata Depoorter dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (15/9/2022) hari ini.
Depoorter berencana untuk mempublikasikan lebih banyak perbandingan CCTV di masa depan, fokut pada tema-tema seperti privasi, kecerdasan buatan, pengawasan dan media sosial.
Dilihat dari Instagram pribadinya, Depoorter sudah membuat karya yang mencakup pembuatan instalasi interaktif, aplikasi, situs web, game dan banyak lagi. "Jika Anda melihat semua pekerjaan saya, Anda dapat melihat saya menunjukkan bahaya teknologi baru," jelasnya.
"Saya berharap dapat menjangkau banyak orang dengan membuatnya sangat sederhana. Saya sangat tidak menyukai seni yang sulit. Saya adalah bagian dari seniman generasi baru yang bekerja dengan teknologi," ucap Depoorter lagi
Tahun lalu, Depoorter menjadi berita utama di seluruh dunia setelah menggunakan kecerdasan buatan untuk mempermalukan politisi di depan umum.
Perangkat lunaknya memindai streaming langsung YouTube dari pertemuan pemerintah Flemish dan menandai legislator yang terlihat menggunakan ponsel cerdas mereka. Teknologi pengenalan wajah digunakan untuk mengidentifikasi politisi yang terganggu oleh perangkat mereka. Hasilnya diposting ke akun Twitter dan Instagram khusus, yang dengan cepat mengumpulkan ribuan pengikut.
Editor: Aspian Nur