Pilih Mobil Listrik Atau BBM, Ini Plus Minusnya
3 menit baca513 kali dibaca

Oleh: Arya Ahyani Fadianur
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Binus Malang)
KORANKALTIM.COM - Memasuki era yang semakin canggih, tidak menutup kemungkinan bahwa di masa mendatang mobil listrik akan menjadi mobil convensional dan dapat mengantikan posisi mobil Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini pun menjadi perdebatan tentang pro dan kontra tentang mobil listrik dan BBM ini. Maka di sini kita akan membahas tentang kekurangan dan kelebihan masing-masing mobil.
Pertama soal harga. Masalah harga menjadi faktor utama dalam membeli suatu barang, termasuk juga mobil listrik dan BBM. Mobil listrik memiliki harga yang cenderung mahal di zaman sekarang ini. Mobil listrik termurah untuk saat ini jatuh kepada Hyundai dengan harga Rp600 juta. Sementara itu mobil listrik termahal yang masuk ke Indonesia merupakan mobil Tesla seharga Rp1,5 miliar.
Dilansir dari Bloomberg Quint, salah satu komponen yang membuat kendaraan tersebut mahal adalah baterai. Mobil listrik biasanya menggunakan baterai lithium-ion. Baterai ini juga terdapat di smartphone atau gadget-gadget lainnya. Baterai lithium-ion ini pun memiliki bahan baku seperti kobalt, nikel, litium, dan mangan. Komponen ini pun perlu ditambang, diproses, dan diubah menjadi senyawa kimia. Fungsinya agar baterai ini dapat awet dan bisa dipakai berkali-kali dengan cara mengisi daya baterai tersebut.
Tentu ini berbeda dengan mobil BBM yang menggunakan minyak bumi yang merupakan sumber salah satu sumber energi terbesar di dunia. Minyak bumi ini berubah menjadi BBM seperti pertamax, solar, dan premium. Tergantung dari mobil yang kita miliki. Kemudian harga mobil BBM pun masih cenderung murah. Ditambah lagi dengan sistem cicilan dan DP bisa langsung membawa mobil tersebut. Contoh mobil yang dapat kita ambil adalah Daihatsu Ayla yang dimulai dari range harga Rp100 jutaan.
Kemudian dalam hal masalah pengisian ulang konsumsi mobil. Mobil listrik memang menjadi salah satu perubahan dalam dunia otomotif. Tetapi tentu tidak semua perubahan itu berjalan dengan lancar. Salah satu masalah yang dialami masyarakat di Indonesia adalah kurangnya tempat untuk mengisi ulang daya baterai mobil listrik ini, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang daya baterai ini terbilang cukup lama yaitu sekitar 4-6 jam penuh. Kemudian ditambah lagi apabila mobil listrik ini habis baterai di tengah jalan. Walaupun sudah ada solusi seperti powerbank, untuk mobil dan beberapa tempat khusus untuk mengisi ulang daya, hal ini masih diragukan oleh masyarakat Indonesia.
Berbeda dengan mobil konsumsi BBM yang memiliki banyak tempat dan bisa dibeli melalui warung-warung kecil yang menjual bensin, dan durasi yang dibutuhkan untuk mengisi mobil bensin pun cukup singkat. Kita dapat mengisi di Pertamina dan Shell yang tentu sudah ada di mana-mana di seluruh kota di Indonesia.
Memang mobil listrik di zaman sekarang masih cenderung mahal dan masih banyak orang yang meragukannya. Karena di zaman ini lah kita sedang bertransisi menuju dunia yang semakin maju dan canggih. Maka kemungkinan nanti di masa mendatang, mobil listrik dapat dipakai semua orang dan memiliki harga murah.
Semua kembali kepada ‘budget’ kita masing-masing. Karena penggunaan mobil listrik untuk jadi mobil konvensional masih membutuhkan waktu yang lama sekitar 10-20 tahun mendatang. Tidak ada salahnya untuk membeli mobil konsumsi BBM di tahun sekarang. Ibaratkan seperti perjalanan sebuah telepon rumah yang pelan-pelan berevolusi menjadi handphone, kemudian jadilah smartphone.
Setiap zaman pasti ada ide yang revolusioner dan akan terus berkembang. Tinggal bagaimana cara kita untuk mengimbangi perkembangan zaman yang semakin hari semakin maju. (*)










