Khusus di Twitter, hanya ada retweet dan like yang dapat digunakan lebih dari 199 juta pengguna untuk berinteraksi di setiap tweet yang mereka baca.
Karena itu satu opsi ini akan ditambahkan dalam beberapa hari ke depan dan faktanya, sekelompok kecil orang dengan hak istimewa sudah mulai menggunakan setelah di uji coba selama tahun 2021 lalu.
Format anyar ini akan menjangkau semua pengguna Android dan iOS yang nyatanya menuai kontroversi, karena para ahli memperingatkan memilih menentang publikasi dapat berkontribusi pada peningkatan masalah yang semakin jelas di jejaring sosial seperti hasutan untuk kebencian, kekerasan dan toksisitas. Faktanya, Facebook sudah gagal beberapa tahun yang lalu ketika mencoba memasukkan jenis interaksi ini.
YouTube juga akan mengaktifkan tombol ini, meskipun penghitungan suara hanya dapat dilihat oleh pembuat konten.
Dalam kondisi seperti itu, Twitter membenarkan peluncurannya berdasarkan eksperimen yang dilakukan dengan 'downvote'. "Suara negatif adalah cara yang paling sering digunakan orang untuk menandai konten yang tidak ingin mereka lihat", kata mereka dari jejaring sosial dilansiar dari laman Marca.com Selasa (8/2/2022) hari ini.
Pengguna yang memakai fungsi ini hanya mencoba memfilter tweet yang tidak relevan bagi mereka. Karena itu, Twitter menganggap fungsi ini merupakan kemajuan besar bagi pengguna dalam hal membungkam percakapan atau mendeteksi percakapan yang merupakan spam, meskipun percakapan tersebut sudah tersedia di menu drop-down atau menu tarik-turun.
Editor: Aspian Nur