Pfizer dan BioNTech Rancang Vaksinasi untuk Anak-Anak Usia 5-11 Tahun
3 menit baca349 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Perusahaan asal Jerman yang memproduksi vaksin jenis Pfizer dan BioNTech sudah menyusun rencana dan tinggal menunggu persetujuan untuk melakukan vaksinasi kepada anak-anak berusia lima hingga 11 tahun.
Ya, setelah tenaga kesehata, para lanjut usia, masyarakat umum dan pelajar, saat ini vaksinasi mulai dirancang untuk diberikan kepada anak-anak demi membuat dunia semakin kuat melawan Covid-19.
Dr zlem Türeci, kepala dokter untuk BioNTech mengatakan kepada situs berita Jerman Der Spiegel, perusahaan akan segera merilis hasil penelitian mereka pada anak-anak di bawah usia 12 tahun dan akan meminta agar suntikan disetujui untuk otorisasi penggunaan darurat oleh US Food and Drug Administration (FDA) dan lembaga lainnya di dunia.
“Dalam beberapa pekan ke depan kami akan mempresentasikan hasil penelitian kami pada anak berusia lima hingga 11 tahun di seluruh dunia kepada pihak berwenang dan mengajukan persetujuan vaksin untuk kelompok usia ini,” kata Türeci di lansir dari laman Dailymail.com.
Formula vaksin sama dengan yang disetujui untuk remaja dan dewasa, tetapi ukuran dosisnya lebih kecil.
Saat ini, vaksin Pfizer hanya disetujui untuk anak-anak berusia 12 tahun ke atas di AS dan Uni Eropa.
Orangtua dan dokter telah memperdebatkan apakah akan menyuntik anak-anak atau tidak karena mereka merupakan 0,1 persen dari semua kematian akibat Covid di Amerika Serikat.
Beberapa jam setelah informasi dari Pfizer dan BioNTech ini, FDA mengatakan data uji klinis yang diajukan oleh produsen vaksin harus menyertakan periode pemantauan setidaknya dua bulan setelah dosis akhir untuk memastikan keamanan.
“Anak-anak bukanlah orang dewasa kecil dan masalah yang mungkin dibahas dalam uji coba vaksin pediatrik dapat mencakup apakah ada kebutuhan untuk dosis yang berbeda atau formulasi kekuatan yang berbeda dari vaksin yang sudah digunakan untuk orang dewasa,” kata Komisaris Penjabat FDA Dr Janet Woodcock didampingi Dr Peter Marks, direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologis.
Sekitar 4.500 anak-anak yang lebih muda telah terdaftar dihampir 100 situs uji klinis di 26 negara bagian AS, Finlandia, Polandia dan Spanyol saat ini.
Menurut clinicaltrials.gov, penelitian setelah vaksinasi kepada anak-anak ini dilakukan dengan cara yang sama seperti orang dewasa yang lebih tua.
Sekitar setengah dari kelompok usia lima hingga 11 tahun akan menerima dua dosis dengan jarak 21 hari dan separuh lainnya akan diberikan suntikan plasebo.
Tim akan menguji keamanan, tolerabilitas respon imun yang dihasilkan oleh vaksin, dengan mengambil darah sebelum dosis 1 dan enam bulan setelah dosis 2.
Jika vaksin terbukti aman dan efektif, uji coba tidak akan dilakukan pada enam bulan tindak lanjut, yang berarti mereka yang menerima plasebo akan diizinkan untuk mendapatkan inokulasi atau pemindahan mikroorganisme di dalam tubuh.
Uji coba untuk anak-anak semuda enam bulan hingga empat tahun masih dalam tahap awal dan akan berkembang setelah peneliti bisa menemukan standar keamanannya.
Anak-anak sering kali merupakan kelompok terakhir yang diuji karena tubuh dan sistem kekebalan mereka berperilaku berbeda, yang berarti mereka mungkin memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda.
Terlebih lagi anak-anak memerlukan dosis atau ukuran jarum yang berbeda tergantung pada tinggi, berat dan usia mereka. Itulah sebabnya sebagian besar anak-anak hanya divaksinasi setelah keamanan dipastikan dengan baik pada populasi orang dewasa.
Faktanya, Pfizer mengumumkan mereka memilih dosis yang lebih rendah untuk uji coba vaksin Covid-19 pada anak-anak daripada yang diberikan kepada remaja dan orang dewasa.
Mereka yang berusia 12 tahun ke atas menerima dua dosis vaksin 30 mikrogram (μg), Namun, anak-anak antara usia lima dan 11 tahun akan diberikan dosis 10 μg dan anak-anak dari usia enam bulan hingga empat tahun akan menerima tiga μg dosis.
Vaksin telah terbukti sangat efektif pada orang dewasa dan remaja, tetapi banyak orang tua tidak antusias untuk memvaksinasi anak-anak mereka.
Sebuah survei Juli 2021, yang dilakukan oleh CS Mott Children's Hospital National Poll on Children's Health di Michigan Medicine bulan lalu, menemukan bahwa 39 persen orangtua mengatakan anak-anak mereka sudah mendapatkan suntikan virus corona.
Namun, 40 persen orangtua juga mengatakan 'tidak mungkin' anak-anak mereka divaksinasi.'
Menurut American Academy of Pediatrics, lebih dari lima juta anak telah terinfeksi Covid-19 sejak pandemi dimulai tahun 2020 silam.
Namun, sebagian besar kasus anak tidak parah dan kematian terkait virus diantara anak-anak jarang terjadi, dengan kematian anak hanya 0,1 persen dari semua kematian akibat corona.
Editor: Aspian Nur










