Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (PSLB3 DLH) Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengungkapkan, pihaknya telah menggandeng Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) untuk mengkaji pemanfaatan abu tersebut. Kendati demikian, hasil kajian awal mendapati adanya material kaca yang masih mencemari residu.
“Ternyata hasilnya masih ada pecahan beling masuk ke dalam abunya, sehingga abunya masih kita karungin disini (kantor DLH),” kata Taufiq.
Berdasarkan data DLH, dari total 750,36 ton sampah yang berhasil dibakar sepanjang periode tersebut, residu abu yang dihasilkan mencapai 63 ton atau setara 8,40 persen dari keseluruhan volume sampah.
Kondisi tersebut terjadi lantaran proses pemilahan sampah di hulu belum maksimal sebelum masuk ke mesin pembakaran. Saat ini, fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pendukung pemilahan baru tersedia di Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang. Karena itu, diharapkan fasilitas serupa dapat segera dihadirkan di setiap titik insinerator lainnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya menyiapkan alternatif dengan mengkaji potensi abu tersebut sebagai bahan campuran aspal. Tetapi, rencana ini masih membutuhkan serangkaian uji teknis lanjutan guna memastikan kualitas, kesesuaian material, dan aspek keamanannya.
Sebelumnya, inovasi pengolahan sampah menjadi paving block ini diproyeksikan untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah melalui penciptaan produk bernilai guna tinggi, dengan proyeksi kualitas mumpuni yang sempat dibidik hingga pasar Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Karena kami memang berharap abu dari pembakaran sampah di insinerator ini memiliki nilai ekonomis," sebut Taufiq.
Editor: Aspian Nur
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (PSLB3 DLH) Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengungkapkan, pihaknya telah menggandeng Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) untuk mengkaji pemanfaatan abu tersebut. Kendati demikian, hasil kajian awal mendapati adanya material kaca yang masih mencemari residu.
“Ternyata hasilnya masih ada pecahan beling masuk ke dalam abunya, sehingga abunya masih kita karungin disini (kantor DLH),” kata Taufiq.
Berdasarkan data DLH, dari total 750,36 ton sampah yang berhasil dibakar sepanjang periode tersebut, residu abu yang dihasilkan mencapai 63 ton atau setara 8,40 persen dari keseluruhan volume sampah.
Kondisi tersebut terjadi lantaran proses pemilahan sampah di hulu belum maksimal sebelum masuk ke mesin pembakaran. Saat ini, fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pendukung pemilahan baru tersedia di Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang. Karena itu, diharapkan fasilitas serupa dapat segera dihadirkan di setiap titik insinerator lainnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya menyiapkan alternatif dengan mengkaji potensi abu tersebut sebagai bahan campuran aspal. Tetapi, rencana ini masih membutuhkan serangkaian uji teknis lanjutan guna memastikan kualitas, kesesuaian material, dan aspek keamanannya.
Sebelumnya, inovasi pengolahan sampah menjadi paving block ini diproyeksikan untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah melalui penciptaan produk bernilai guna tinggi, dengan proyeksi kualitas mumpuni yang sempat dibidik hingga pasar Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Karena kami memang berharap abu dari pembakaran sampah di insinerator ini memiliki nilai ekonomis," sebut Taufiq.
Editor: Aspian Nur