Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Intrusi air laut masih menjadi persoalan serius di tengah kemarau panjang yang melanda Samarinda.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Intrusi air laut masih menjadi persoalan serius di tengah kemarau panjang yang melanda Samarinda.
Berdasarkan informasi Perumda Tirta Kencana, air olahan dari sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang terdampak dilarang dikonsumsi, baik untuk minum maupun memasak.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan, meski distribusi air dipastikan tetap mengalir ke rumah warga, penggunaannya kini dibatasi khusus untuk kebutuhan nonkonsumsi atau Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK).
“Air asin itu dialirkan, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan MCK, nonkonsumsi,” kata Suwarso, Jumat (9/10/2026).
Adapun wilayah yang masuk dalam area pelayanan nonkonsumsi meliputi IPA Bantuas (Kelurahan Bantuas), IPA Palaran (Kelurahan Bukuan, Handil Bakti, Rawa Makmur), IPA Pulau Atas (Kelurahan Pulau Atas, Sindang Sari), dan IPA Makroman (Kelurahan Makroman, Sambutan).
Kemudian ada IPA Kalhol (Kelurahan Bukuan, Handil Bakti, Rawa Makmur, Simpang Pasir, Masjid, Mangkupalas, Rapak Dalam), IPA Selili (Kelurahan Selili, Sidomulyo, Sungai Dama), serta IPA Sungai Kapih (Kelurahan Sambutan, Sungai Kapih).
Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan air untuk sektor pertanian belum optimal. Dari potensi 500 hektare sawah, pemanfaatan air dari lubang bekas tambang (void) baru menjangkau sekitar 50 persen. Kualitas air tersebut diuji terlebih dahulu oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda sebelum dimanfaatkan.
Pada saat bersamaan, sumur-sumur komunal warga dilaporkan mulai mengering, sehingga pemerintah daerah bergerak mengoptimalkan sumber air alternatif bagi masyarakat dan lahan pertanian.
Kemarau panjang turut memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan frekuensi tertinggi berada di Kecamatan Sambutan dan Palaran yang belum tersiram hujan.
Kondisi ini membuat BPBD meminta rekomendasi ulang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari BMKG. Meskipun pernah dilaksanakan, pembentukan awan di langit Samarinda masih terbatas sehingga hujan belum turun merata.
“Potensi ataupun kemanfaatan OMC itu sangat kami butuhkan,” tegasnya.
Selain OMC, pemadaman jalur darat dan water bombing tetap dibutuhkan guna menekan titik api. Di samping penanganan kemarau, BPBD mulai menyusun langkah antisipasi transisi musim hujan yang diperkirakan terjadi pada akhir Oktober atau awal November.
Potensi bencana seperti banjir, pohon tumbang, serta tanah longsor akibat pergerakan tanah kering menjadi kewaspadaan utama.
Persoalan kualitas udara akibat kepulan asap dari material batu bara juga menjadi perhatian. Suwarso menyebut pihaknya berencana menerapkan penyemprotan bahan kimia khusus, guna menekan pembentukan asap tanpa memperburuk mutu udara.
Ia berharap sinergi dan koordinasi lintas instansi terus diperkuat guna menjaga ketersediaan air baku dan pasokan pertanian selama kemarau.
“Saya hanya berharap mudah-mudahan OMC tetap dilanjutkan,” pungkasnya.
Editor: Erwin






479 kali dibaca


119 kali dibaca
Pusat gempa berada di darat 12 km barat Kendari
09 Okt 2026, 17:34:55 WIB • Kedalaman 3 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG