Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Setelah beberapa bulan beroperasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengevaluasi kinerja 10 mesin insinerator pengolahan sampah.
2 menit baca4 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Setelah beberapa bulan beroperasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengevaluasi kinerja 10 mesin insinerator pengolahan sampah.
Hasilnya, masih ditemukan sejumlah kendala yang masih memengaruhi efektivitas pembakaran, mulai dari sampah yang belum terpilah hingga belum tersedianya fasilitas pengolahan sampah organik di sekitar lokasi insinerator.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, evaluasi dilakukan berdasarkan kinerja operasional masing-masing mesin sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Pada periode tersebut, akumulasi operasional 10 mesin insinerator mencapai 799 hari kerja. Pengoperasian seluruh unit secara bersamaan baru berjalan serentak sejak akhir Juni 2026, sedangkan sebelumnya mesin diaktifkan secara bertahap karena operator masih menjalani pelatihan serta uji coba dan penyesuaian teknis.
“Januari sampai Juni itu kita masih proses training, proses uji coba mesin dan sebagainya,” kata Taufiq, Rabu (7/10/2026).
Selama periode tersebut, total sampah yang berhasil dibakar mencapai 750,36 ton. Capaian itu diakui belum optimal jika dibandingkan dengan kapasitas terpasang tiap mesin yang mampu membakar sekitar 8 ton sampah per hari, dengan durasi delapan jam pengoperasian.
Dari evaluasi lapangan, persoalan utama yang ditemukan adalah sampah yang masuk ke lokasi insinerator masih dalam kondisi tercampur.
Kondisi ini membuat petugas membutuhkan waktu hingga tiga hari hanya untuk memilah sampah sebelum proses pembakaran dapat dilakukan.
“Jadi kami belum bisa membakar. Tiga hari itu kami hanya memilah dulu,” jelasnya.
Selain itu, kepatuhan operator terhadap standar operasional prosedur (SOP) juga menjadi perhatian. Sebagai sistem kerja yang relatif baru, petugas masih memerlukan penyesuaian agar material non-target, seperti potongan karet kecil, tidak terbawa dalam proses pemilahan manual yang berpotensi menimbulkan asap hitam.
“Sampah-sampah yang mungkin seharusnya tidak dibakar itu masih tercampur,” ungkapnya.
Kendala lain yang dihadapi adalah ketiadaan pengolahan sampah organik di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di lokasi insinerator.
Dari satu dump truck sampah yang masuk, hanya sepertiga yang dapat dibakar, sedangkan dua pertiga sisanya menjadi residu, termasuk sampah organik yang terpaksa diangkut kembali ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan.
“Seandainya ada wadah pengolahan sampah organik di lokasi TPS-nya insinerator mungkin akan lebih maksimal. Jadi yang dibawa ke TPA tinggal hanya residunya saja,” katanya.
Oleh karena itu, DLH menilai penerapan TPS terpilah sejak hulu menjadi hal penting untuk mendukung kinerja insinerator sekaligus mengurangi beban volume sampah yang masuk ke TPA Sambutan.
Saat ini, DLH Samarinda menjalankan proyek percontohan TPST pada salah satu titik insinerator, yakni di Kelurahan Baqa.
Di samping pemilahan, DLH juga mengevaluasi faktor teknis mesin bersama Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) serta pihak vendor untuk menyempurnakan performa insinerator di lapangan.
“Cita-cita saya semua insinerator itu ada TPS terpilah untuk support insinerator supaya bisa berfungsi maksimal,” pungkasnya.
Diketahui, adapun 10 titik insinerator yakni di Kelurahan Baqa, Bukit Pinang, Lempake, Handil Bakti, Simpang Pasir, Tani Aman, kawasan Polder Air Hitam, Jalan Wanyi, serta Ring Road I dan II.
Editor: Erwin






464 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 9 km Selatan Kodi, Sumba Barat Daya
07 Okt 2026, 14:28:20 WIB • Kedalaman 19 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG