Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Realisasi Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan dampak kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda diperkirakan telah mencapai 90 persen.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Realisasi Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan dampak kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda diperkirakan telah mencapai 90 persen.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso menjelaskan, besaran BTT pada awal penetapan status tanggap darurat semula dialokasikan Rp2,5 miliar.
Anggaran tersebut kemudian ditambah sejalan dengan keputusan perpanjangan masa tanggap darurat dan berlanjutnya operasional di lapangan.
Adapun status tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla di Samarinda pertama kali ditetapkan pada 25 Agustus hingga 7 September 2026.
Pemkot Samarinda kemudian memperpanjang status tersebut sebanyak dua kali, masing-masing pada periode 8–21 September 2026 dan 22 September–5 Oktober 2026.
Setelah itu, pemerintah kembali memberlakukan perpanjangan ketiga yang mulai berjalan sejak 6 hingga 20 Oktober 2026. Langkah ini diambil lantaran kebakaran lahan belum hilang sepenuhnya.
“Awalnya Rp2,5 miliar, karena ada perpanjangan jadi Rp3,8 miliar,” kata Suwarso.
Meski secara persentase diperkirakan terserap 80 hingga 90 persen, Suwarso menyebut kepastian realisasi dan sisa anggaran masih akan diklarifikasi kembali bersama bagian keuangan.
“Harusnya mencukupi karena sudah melalui perencanaan. Nanti kita lihat kembali apakah ada sisa atau tidak. Kita cek kembali di keuangan,” ujarnya.
Pengalokasian BTT telah dipetakan melalui Rencana Kebutuhan Belanja (RKB) di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat. Salah satu peruntukan utamanya adalah mendukung operasional relawan di lapangan, khususnya penyediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk pemadaman karhutla.
“Semangat dan keikhlasan teman-teman ini kan sudah dilaksanakan. Kita harus dukung minimal dengan BBM,” jelasnya.
Diketahui, dukungan BTT memang disalurkan ke sejumlah OPD sesuai penugasan. BPBD Samarinda bertindak sebagai koordinator utama pos komando tanggap darurat, menyusun RKB, mengoordinasikan bantuan lintas sektor, memetakan sumber air alternatif, hingga menyediakan mesin penyedot air untuk lahan persawahan terdampak.
Sementara itu, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) berfokus pada penanggulangan dan pemadaman titik api guna mencegah perluasan karhutla.
Di sektor pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani) bertugas memverifikasi kebutuhan air serta mengoperasikan pompa beserta dukungan BBM untuk mengalirkan air dari sumber alternatif ke sawah warga.
Di sektor pasokan air bersih, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Kencana bersama instansi terkait menjaga distribusi air bagi masyarakat, termasuk mengatasi gangguan akibat intrusi air laut yang sempat terjadi pada beberapa Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Adapun Dinas Perdagangan (Disdag) bergerak menekan dampak kekeringan terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat melalui gelaran pasar murah di 20 titik lokasi terdampak.
Selain tingkat OPD, Pemkot Samarinda mengalokasikan BTT sebesar Rp10 juta untuk setiap kelurahan. Dana tersebut difungsikan untuk mengoptimalkan pasokan air bersih warga serta mengantisipasi karhutla di wilayah masing-masing.
Camat dan lurah diminta mengelola dana tersebut secara cermat dan akuntabel, mengingat anggaran penanggulangan bencana menjadi objek krusial dalam pemeriksaan auditor internal maupun eksternal.
Selain aspek teknis, penggunaan BTT di tingkat kelurahan diarahkan untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan di tengah kondisi cuaca kering.
Karenanya, Suwarso menegaskan seluruh serapan BTT wajib mengacu pada kebutuhan nyata serta dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
“Semua harus bisa dipertanggungjawabkan dengan benar dan riil,” tandasnya.
Editor: Erwin






228 kali dibaca

112 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 84 km Utara Ruteng
06 Okt 2026, 10:42:45 WIB • Kedalaman 21 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG