Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Samarinda belakangan ini belum mampu meredam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara keseluruhan.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Samarinda belakangan ini belum mampu meredam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara keseluruhan.
Curah hujan yang tidak merata membuat kawasan yang sering terbakar belum mendapat pasokan air yang cukup.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso menjelaskan, hujan memang membantu memperlambat potensi kebakaran di beberapa titik.
Namun, dampaknya belum menyeluruh, terlebih ada jeda tiga hingga empat hari tanpa hujan yang memicu munculnya kembali titik api.
“Hujannya kemarin memang bukan di daerah yang titik apinya besar. Namun, setidaknya bisa mencegah terjadinya kebakaran di daerah lain,” kata Suwarso, Senin (5/10/2026).
Berdasarkan rekapitulasi BPBD hingga Minggu sore, tercatat 246 kejadian karhutla di Samarinda dengan total luas lahan terdampak mencapai 608,18 hektare.
Sejumlah lokasi yang sebelumnya padam bahkan kembali terbakar. Salah satunya di kawasan Jalan Sultan Sulaiman sekitar Pelita 8, yang berada di perbatasan Kelurahan Sambutan dan Kelurahan Pulau Atas, Minggu (4/10/2026) sore. Api kembali berkobar pada malam harinya sekitar pukul 23.00 Wita.
“Hasil pemantauan anggota di lapangan menunjukkan adanya endapan batu bara di bawah permukaan tanah. Selain itu, rumput-rumput mulai mengering akibat cuaca yang sangat panas,” terangnya.
Kondisi vegetasi yang mengering serta material mudah terbakar di bawah tanah membuat api berpotensi muncul kembali meski sempat dipadamkan, seperti yang terjadi di sejumlah blok kawasan Pelita 8.
Hal serupa terjadi di Kelurahan Bantuas. Meskipun hujan sempat turun di sebagian wilayah, kawasan RT 1 yang terbakar tidak mendapat guyuran air dengan intensitas memadai sehingga kondisi di lokasi belum banyak berubah.
Selain faktor cuaca, proses pemadaman terkendala medan yang sulit. Akses yang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat memaksa tim gabungan membawa selang secara manual. Di kawasan Pelita 8, BPBD bahkan memanfaatkan air parit dan drainase untuk mengisi tangki air (water tank).
“Relawan membuka jalan setapak, lalu tim gabungan dan personel lainnya masuk membawa selang ke bagian dalam karena lokasi memang tidak bisa dijangkau kendaraan,” jelasnya.
Tantangan makin berat dengan adanya lapisan tanah gambut yang diperkirakan mencapai kedalaman satu meter di lokasi tertentu. Kondisi ini membuat pemadaman harus dilakukan menyemprotkan air hingga ke lapisan dalam menggunakan peralatan khusus.
Di tengah penanganan karhutla yang telah berlangsung lebih dari sebulan, para relawan tetap siaga di lapangan. BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk memantau kondisi fisik para petugas dan relawan tersebut.
“Untuk mengecek kesehatan mereka, saya sudah berkomunikasi dengan Dinkes agar segera dilakukan pemeriksaan,” tandasnya.
Editor: Erwin






118 kali dibaca

106 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 112 km selatan Lumajang
05 Okt 2026, 09:16:32 WIB • Kedalaman 4 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG