Temuan kedua itu muncul saat DLH kembali melakukan pemeriksaan terhadap instalasi pengolahan limbah. Meski pengelola telah menambah bak penampungan, proses pengolahan dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya sehingga bau tidak sedap masih tercium dan mengganggu aktivitas warga maupun pedagang di sekitar kawasan Benanga.
Plt Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran DLH Samarinda Tri Ayu Wulandari mengatakan, pada pemeriksaan pertama pihaknya telah meminta pengelola tidak lagi membuang air limbah secara langsung ke sungai.
“Pada pemeriksaan pertama, DLH meminta pelaku usaha tidak lagi membuang air limbah secara langsung ke sungai. Pemilik usaha juga diminta menambah unit pengolahan sehingga limbah dapat diproses terlebih dahulu sebelum dilepas ke lingkungan,” ujarnya saat ditemui dilokasi pada Jum’at (2/9/2026)
Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti pengelola dengan membuat bak penampungan tambahan. Namun, saat pemeriksaan kedua, DLH menemukan sistem pengolahannya belum berjalan optimal.
“Sudah dibuat bak penampungan tambahan, hanya saja proses yang dilaksanakan itu tidak optimal karena salah pengolahan,” tambahnya.
Tri Ayu menjelaskan, pengolahan seharusnya dilakukan secara berurutan. Bakteri ditambahkan terlebih dahulu, kemudian limbah melalui proses filtrasi dan dilanjutkan klorinasi.
“Yang harusnya pengolahannya itu menambahkan bakteri dulu, baru difilter, kemudian diklorinasi. Ternyata dia menggabungkan keseluruhan rangkaian itu,” jelasnya.
DLH kemudian memberikan waktu satu minggu kepada pengelola untuk memperbaiki sistem pengolahan. Dalam masa tersebut, pemantauan akan dilakukan bersama Kelurahan Lempake
“Ultimatumnya adalah tidak membuang lagi air limbahnya ke sungai dengan cara melakukan pengolahan terlebih dahulu,” tegas Tri Ayu.
Ia menegaskan, masa tersebut merupakan kesempatan bagi pengelola untuk melakukan pembenahan. Jika tidak ada tindak lanjut, DLH akan mengambil langkah sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Kalau sampai dalam rentang waktu pembinaan ini tidak ada tindak lanjut, maka kami akan melaksanakan proses tindak lanjut sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tuturnya.
Sementara itu, pemilik usaha tahu Wailan mengatakan, dirinya telah menjalankan usaha tersebut sejak 1994. Sebelumnya, ia mengaku telah menjalankan usaha serupa selama sekitar 14 tahun di kawasan Gang Tanjung.
Saat ini produksinya mencapai 8–9 ton tahu per hari. Usaha tersebut juga melayani kebutuhan enam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda.
Wailan menyebut harga kedelai yang digunakan kini mencapai sekitar Rp605 ribu per karung berisi 50 kilogram. Kenaikan harga bahan baku membuat keuntungan usahanya semakin tipis.
“Ya, dikit,” katanya.
Terkait persoalan bau, Wailan mengakui kondisi tersebut memang perlu diperbaiki agar tidak mengganggu warga sekitar.
“Ya perbaiki lah. Jangan sampai mengecewakan tetangga. Aku sendiri nyium, apalagi warga orang lain,” pungkasnya.
Editor: Erwin