Keluhan tersebut disampaikan warga di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Jamhari, Kelurahan Sungai Pinang Dalam yang menyebut dampak aktivitas pembangunan disebut telah dirasakan sejak sekitar Maret hingga September 2026 lalu. Tak hanya kerusakan pada rumah, warga juga mengeluhkan gangguan kenyamanan akibat kebisingan proyek, termasuk terganggunya waktu istirahat.
Menindaklanjuti keluhan itu, pihak hotel bersama kontraktor mulai melakukan pemeriksaan terhadap rumah warga di RT 02, RT 03 dan RT 05. Pendataan dilakukan untuk memetakan tingkat kerusakan sekaligus menjadi acuan dalam menghitung kebutuhan biaya perbaikan.
Public Relation Hotel JW Marriott Yohanes Wijaya mengatakan, pemeriksaan mengacu pada data kerusakan yang sebelumnya dihimpun pengurus RT. “Untuk data yang sudah diberikan oleh RT, itulah yang akan kami data. Dari RT 2, RT 3, sampai RT 5. Hari ini kami lanjut sampai dengan RT 2, 3, dan 5,” ujar Yohanes, Kamis (1/10/2026).
Proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Setiap rumah memiliki kondisi berbeda dan sejumlah kerusakan perlu dicek lebih detail. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan satu rumah bahkan dapat berlangsung hampir dua jam.
Setelah seluruh rumah selesai diperiksa, hasilnya akan diolah menjadi rencana anggaran biaya (RAB). Pihak hotel memperkirakan proses tersebut memerlukan waktu satu hingga dua pekan. “Setelah survei dilakukan, kami perlu waktu satu sampai dua minggu untuk menggodok data hasil survei ini. Kami anggap dua minggu untuk kemudian mengeluarkan RAB (Rencana Anggaran Belanja),” papar Yohanes.
RAB selanjutnya disampaikan melalui masing-masing RT kepada warga. Setelah menerima hasil perhitungan, warga dapat meninjau kembali nominal yang ditetapkan. “Nanti mekanisme perbaikannya kami kembalikan kepada warga. Apakah mau diperbaiki sendiri sesuai nilai yang sudah disepakati, atau pengerjaannya diserahkan kepada pihak kami melalui kontraktor,” ungkap Yohanes.
Sementara Lurah Sungai Pinang Dalam Novi Kurnia P menilai persoalan yang dihadapi warga tidak sebatas kerusakan fisik. Gangguan kebisingan dan waktu istirahat juga menjadi dampak yang perlu diperhatikan. “Kerugian material, kemudian gangguan psikologi, gangguan istirahat, terkait kebisingan dan lain-lain itu diharapkan ada kompensasinya juga,” ujar Novi.
Selain rumah, persoalan drainase juga menjadi perhatian. Pihak hotel disebut berkomitmen membenahi saluran yang menyebabkan genangan saat hujan deras. “Masalah drainase yang tempo hari ada aduan masyarakat terkait banjir juga. Ini janji perusahaan akan dibenahi drainasenya. Salurannya nanti akan dibuatkan keluarnya ke Jalan Samanhudi,” papar Novi.
Warga kini menanti penyelesaian seluruh tahapan tersebut agar keluhan yang berlangsung berbulan-bulan tidak berhenti pada proses pendataan, tetapi benar-benar menghasilkan perbaikan di lapangan.
Editor: Aspian Nur