Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, mengatakan bahwa durasi pelayanan SPBU perlu menjadi perhatian untuk mengurai antrean kendaraan yang kerap terjadi, terutama saat permintaan BBM meningkat.
Menurutnya, sejumlah SPBU sudah tutup sekitar pukul 20.00 Wita, sementara kendaraan masih mengantre untuk mendapatkan BBM.
“Kondisi ini akhirnya yang membuat masyarakat memiliki waktu yang cukup terbatas untuk mengakses bahan bakar,” ujar Bambang, Rabu (30/9/2026).
Oleh karena itu, pihaknya meminta agar ada penambahan waktu operasional di SPBU. Bambang menilai, penambahan jam operasional dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi penumpukan kendaraan.
“Sehingga dengan waktu pelayanan yang lebih panjang, masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk mengisi BBM tanpa harus terkonsentrasi pada jam-jam tertentu,” ucapnya.
Meski demikian, dia menjelaskan, persoalan antrean BBM subsidi di Kaltim tidak semata-mata berkaitan dengan pelayanan SPBU saja. Keterbatasan alokasi BBM dibandingkan kebutuhan yang diusulkan pemerintah daerah ungkap Bambang, turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Dia mengungkapkan, seperti usulan kuota solar Kaltim pada tahun 2024 mencapai 392.881 kiloliter, sedangkan yang direalisasikan hanya 277.831 kiloliter.
“Kemudian di tahun 2025, usulan solar kita tingkatkan menjadi 465.753 kiloliter, tetapi realisasinya justru tercatat hanya 252.231 kiloliter. Lalu di tahun ini, usulan kita sebesar 415.682 kiloliter tetapi realisasi 268.430 kiloliter,” katanya.
Lebih lanjut, menurut Bambang, selisih antara kebutuhan yang diusulkan dan alokasi yang terealisasi tentunya sangat berpengaruh terhadap ketersediaan BBM subsidi di daerah.
“Rata-rata usulan yang disetujui tidak sampai memenuhi kebutuhan yang diajukan, dan ini juga yang mengakibatkan antrean,” tuturnya.
Kemudian Bambang juga memaparkan kondisi serupa pada BBM jenis Pertalite, di tahun 2025, Kaltim mengusulkan kuota sebesar 955.323 kiloliter, tetapi realisasinya hanya 620.624 kiloliter.
“Adapun pada tahun 2026, usulan kuota Pertalite kita mencapai 1.034.972 kiloliter, namun realisasi yang tercatat baru sebesar 508.400 kiloliter,” tutupnya.
Editor: Erwin