Upaya Atasi Banjir, Anggaran Normalisasi Drainase di Samarinda Capai Rp400 Miliar
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Samarinda melaksanakan normalisasi drainase hampir dibseluruh kecamatan.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Samarinda Darmadi menjelaskan, penanganan drainase disesuaikan dengan kebutuhan teknis di masing-masing lokasi.
“Hampir semua ada, setiap kecamatan,” kata Darmadi, Rabu (30/9/2026).
Sejumlah kawasan yang menjadi sasaran pengerjaan di antaranya Jalan P Antasari, Untung Suropati, Jalan Cermai, Juanda, AW Sjahranie, Wahid Hasyim II, Merdeka, hingga kawasan Makroman dan Palaran.
Selain titik-titik tersebut, pengerjaan di Jalan Wijaya Kusuma dan Jalan Tridaya juga baru dimulai setelah menyelesaikan proses lelang.
“Itu memang baru berjalan, baru selesai lelangnya,” ujarnya.
Secara keseluruhan, alokasi anggaran penanganan drainase di Samarinda mencapai sekitar Rp400 miliar. Nilai tersebut merupakan gabungan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Samarinda, Bantuan Keuangan (Bankeu) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim), serta dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD.
“Keseluruhannya itu sekitar Rp400 miliar. Itu untuk kegiatan drainase saja,” jelasnya.
Meskipun beberapa pengerjaan sempat tertunda akibat proses administrasi dan pencairan anggaran, progres di lapangan kini menunjukkan perkembangan signifikan. Seperti di Jalan P Diponegoro, bahkan sudah memasuki tahap penuntasan.
“Tinggal finishing-finishingnya saja itu,” katanya.
Sementara itu, pengerjaan di Jalan Gerilya tepatnya di depan SPBU masih berlangsung. Saluran di kawasan ini terus dikerjakan agar terhubung hingga ke Pos Front Persaudaraan Islam (FPI) guna mengalirkan air secara optimal.
Skema serupa juga diterapkan secara bertahap di kawasan Damanhuri dengan mengarahkan aliran air menuju Jalan Sentosa.
“Kalau nyambung ke Pos FPI, itu nanti bisa berkurang jauh (banjir),” terangnya.
Berbagai upaya penanggulangan banjir yang berjalan secara simultan ini disebut mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat, terutama dari makin singkatnya waktu surut air.
Kendati demikian, tingginya laju sedimentasi serta penumpukan sampah rumah tangga masih menjadi kendala utama di lapangan yang membutuhkan kesadaran bersama.
“Kita bergerak terus dan sekarang banjir sudah tidak kayak dulu, lebih cepat surutnya,” pungkasnya.
Editor: Erwin









