Hujan Belum Akhiri Ancaman Karhutla di Samarinda, Asap Kembali Muncul
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda pada Senin (28/9/2026) sempat meredakan kepulan asap dan kobaran api yang muncul di sejumlah kawasan dalam beberapa pekan terakhir. Guyuran hujan membasahi lahan kering dan memadamkan api di sejumlah titik.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya mengakhiri ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dua hari berselang, kepulan asap kembali terlihat di beberapa titik di Samarinda, menandakan masih adanya potensi api pada lahan yang mengering.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan, hujan cukup membantu meredakan kebakaran di sejumlah titik. Lokasi yang mendapat guyuran hujan hingga Rabu (30/9/2026) siang tidak lagi menunjukkan kobaran api.
“Ya akhirnya kalau yang terkena hujan sudah tidak ada api lagi. Hujan kemarin sampai jam ini, hampir jam setengah dua ini,” ujar Suwarso, Rabu (30/9/2026).
Meski begitu, BPBD masih menerima laporan adanya asap dari kawasan Palaran. Asap tersebut muncul di sekitar area Pelita 8 Sambutan hingga Pulau Atas.
“Di daerah Pelita 8, ini saya tadi dapat informasi di daerah Pelita 8 hingga Pulau Atas mulai ada asap,” ujarnya.
Laporan itu langsung ditindaklanjuti petugas di lapangan. BPBD bersama relawan, petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan, serta masyarakat melakukan penanganan awal untuk mencegah asap berkembang menjadi kobaran api.
Penanganan kemudian dilanjutkan dengan melibatkan sejumlah pihak. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pemadaman sekaligus memastikan tidak ada bara yang masih bertahan di kawasan tersebut.
“Teman-teman dari tim, dari relawan, BPBD, Damkar, termasuk masyarakat juga sudah penanganan awal dan ini kita lanjutkan penanganannya dengan perbantuan beberapa pihak untuk mempercepat pemadaman,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi cuaca masih menjadi perhatian BPBD. Setelah hujan, suhu udara di Samarinda kembali terasa panas. Kondisi ini dinilai dapat mempercepat pengeringan lahan, terutama di kawasan yang memiliki lapisan gambut.
“Cuacanya masih panas banget. Ini juga mempengaruhi untuk daerah-daerah gambut di sisi bawahnya. Karena panas tinggi, ini masih kering, bisa ada kemungkinan masih terjadi kebakaran,” pungkasnya.
Editor: Erwin









