Dampak pembangunan disebut paling terasa di permukiman Jalan Lambung Mangkurat Gang Jamhari RT 02. Ada 19 rumah dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai dari retakan ringan hingga kerusakan yang dinilai cukup parah.
Ketua RT 02 Ratna Utariah mengatakan, posisi rumah warga sangat berdekatan dengan area proyek. Jarak bangunan terdekat dengan lokasi pembangunan disebut hanya sekitar tiga meter. “Kalau untuk RT 02 sendiri itu pasti terdampak karena posisi hotel dengan bangunan warga hanya sekitar tiga meter. Diperkirakan ada 19 rumah yang terdampak. Ada yang parah, sedang dan ringan, tergantung jaraknya dengan hotel,” ujar Ratna, Rabu (30/9/2026).
Kerusakan yang paling banyak ditemukan berupa retakan pada dinding dan keramik rumah. Persoalan bertambah ketika hujan deras turun. Sejumlah rumah yang berada paling dekat dengan proyek disebut kembali kemasukan air.
“Rata-rata retak, retak dinding dan keramik lantai. Waktu hujan deras lalu rumah yang dekat betul dengan hotel itu banjir total,” katanya.
Air bahkan disebut muncul dari bawah lantai rumah sehingga warga kesulitan mengeringkannya. “Bukan hanya masuk dari pintu, dari bawah keramik juga. Jadi tidak bisa dikeluarkan kalau tidak dialirkan,” sambung Ratna.
Keluhan tersebut kemudian ditindaklanjuti BPBD Kota Samarinda dengan meninjau kawasan permukiman. Analis Kebencanaan BPBD Samarinda, Hamzah, menyebut terdapat tiga RT yang berada di sekitar lokasi proyek, yakni RT 02, RT 03 dan RT 05. “Yang paling terdampak langsung RT 02 dan RT 03 karena langsung berada kontak dengan kegiatan proyek ini,” jelas Hamzah.
BPBD juga menemukan sejumlah bangunan mengalami retakan. Bahkan, salah satu kamar mandi warga dilaporkan sudah gerowong pada bagian bawah dan tidak dapat digunakan. “Bangunan tadi banyak yang retak-retak. Bahkan ada rumah warga, kamar mandinya tidak bisa digunakan karena sudah gerowong,” ungkapnya.
Selain kerusakan bangunan, BPBD menyoroti drainase di area proyek. Hamzah mengatakan belum terlihat saluran pengalih sementara untuk mencegah limpasan air menuju permukiman. “Tidak ada buffer-nya dan tidak dibangun emergency drainage. Jadi tidak ada parit pengalih supaya air tidak mengarah ke rumah warga,” katanya.
Aktivitas pemancangan yang berada dekat rumah warga juga menjadi perhatian. BPBD meminta adanya area pengaman selama pekerjaan berlangsung. “Kami tidak mengharapkan ini berkelanjutan. Harapannya segera diperbaiki,” pungkas Hamzah.
Editor: Aspian Nur