Sumur Warga Bayur Sempaja Mengering, Air Parit jadi Pilihan untuk MCK
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kemarau yang melanda Kota Samarinda mulai berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih warga.
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kemarau yang melanda Kota Samarinda mulai berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih warga.
Di kawasan Bayur Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, sejumlah warga kini kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sumur yang selama ini menjadi sumber utama perlahan kehilangan debit air. Kondisi tersebut memaksa warga mencari alternatif termasuk memanfaatkan air parit disekitar permukiman untuk keperluan mandi, mencuci dan kebutuhan lainnya.
Arnayan, warga setempat mengatakan, persoalan kekurangan air sudah dirasakannya sekitar satu bulan terakhir. Ia menyebut kondisi sumur semakin parah seiring berlangsungnya musim kemarau.
"Terutama air kering ini, Pak. Iya, nggak ada sih yang lain daripada air," ujar Armayan Rabu (2/9/2026).
Sumur di rumah pria berusia 53 tahun itu kini hanya mampu menghasilkan air dalam jumlah terbatas. Dalam sehari, air yang berhasil dikumpulkan bahkan tidak lebih dari dua jeriken.
"Kam8 pakai sumur, kering lah. Akhirnya dapat paling dua jeriken setiap sore," katanya.
Terbatasnya persediaan tersebut membuat Arnayan harus mencari sumber air lain. Salah satunya dengan mengambil air dari parit yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Pilihan itu diambil bukan karena warga menganggap air parit sebagai sumber yang layak, melainkan lantaran kebutuhan air tidak dapat menunggu. Alternatif membeli air pun dinilai cukup membebani pengeluaran keluarga.
"Soalnya beli tiga hari habis, tiga hari habis. Wah, saya bilang mending ambil saja," tuturnya.
Ia menyebut harga air yang harus dibeli warga berada di kisaran Rp100 Ribu hingga Rp150 Ribu. Biaya tersebut dinilai cukup tinggi, terlebih air yang diperoleh hanya mampu mencukupi kebutuhan selama beberapa hari.
"Rp100 Ribu, Rp120 Ribu umum lah. Paling besar Rp150 Ribu," ungkap Armayan.
Kondisi serupa turut dirasakan Sulami, warga Bayur lainnya. Menurutnya, berkurangnya air dari sumur membuat warga harus memutar otak agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
"Kami harus mencari sumber air alternatif agar aktivitas rumah tangga tetap berjalan," kata Sulami.
Warga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut, terutama dengan memastikan distribusi air bersih menjangkau kawasan Bayur selama musim kemarau.
"Air ini bukan cuma untuk kebutuhan biasa, tapi untuk mandi, mencuci, dan keperluan rumah setiap hari. Mau tidak mau kami harus cari sumber air lain karena sumur sudah semakin kering," pungkas Sulami.
Di tengah sumur yang terus mengering, warga Bayur kini harus bertahan dengan sumber air seadanya demi memenuhi kebutuhan dasar.
Editor: Aspian Nur







Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
6 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 111 km tenggara Selayar
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG