Situasi ini mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan selama 14 hari.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Samarinda Nomor: 300.2/242/HK-KS/VIII/2026 yang ditandatangani Wali Kota Samarinda, Andi Harun, pada 26 Agustus 2026.
Masa berlaku penetapan darurat terhitung sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026, dengan opsi perpanjangan atau penyesuaian sesuai dinamika kondisi di lapangan.
Langkah ini diambil merespons maraknya karhutla, gangguan pasokan air bersih, serta ancaman pada sektor pertanian akibat fenomena El Nino dan minimnya curah hujan dalam sebulan terakhir.
Pemkot Samarinda menyokong seluruh pembiayaan penanganan krisis ini melalui alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Kota Samarinda.
Andi Harun memaparkan bahwa eskalasi dampak kemarau kini telah menyentuh lini vital masyarakat.
Salah satu fokus krusial penanganan berada pada lonjakan kadar klorida air Sungai Mahakam akibat fenomena pasang laut.
Peningkatan kadar garam tersebut berpotensi melumpuhkan proses penyedotan air baku pada sejumlah intake di kawasan Palaran dan sekitarnya, termasuk Bantuas, Bukuan, hingga Pulau Atas.
Dalam beberapa hari terakhir, satu hingga dua intake dilaporkan sempat menyentuh ambang batas kandungan klorida sebesar 250 parts per million (ppm).
Angka ini merupakan parameter krusial operasional intake, sebab ketika kadar klorida menyentuh 250 ppm akibat intrusi air laut, proses penyedotan air harus dihentikan demi menjaga kualitas air bersih yang didistribusikan ke warga.
“Kalau air terintrusi air asin dan kloridanya naik pada 250 ppm, maka intake produksi kita stop,” tegas Andi Harun.
Kendati demikian, pemantauan ketat terus dilakukan. Petugas memeriksa tingkat klorida setiap jam untuk menguji kelayakan operasional intake.
Begitu kadar klorida melandai di bawah batas aman, mesin pompa produksi segera diaktifkan kembali.
Penurunan konsentrasi garam tersebut sempat terjadi pascaturunnya hujan di wilayah hulu Kabupaten Kutai Kartanegara yang membantu mengencerkan debit air menuju Samarinda.
“Supaya pada saat kloridanya turun di bawah 250, mesinnya kita hidupkan lagi untuk produksi air,” ucapnya.
Di luar ancaman karhutla dan krisis air baku, masyarakat diminta mewaspadai potensi bahaya susulan saat intensitas hujan kembali meningkat.
Struktur tanah Kota Tepian yang didominasi lempung berpasir sangat rentan mengalami pergerakan atau tanah longsor setelah terpapar kekeringan panjang.
Warga diimbau tetap siaga menghadapi transisi musim. Kehadiran curah hujan diharapkan membasahi tanah secara bertahap agar struktur tanah menyerap air secara stabil dan tidak memicu erosi mendadak.
“Mudah-mudahan hujannya turun pelan-pelan, sehingga tanahnya menjadi menguat,” tutupnya.
Editor: Erwin