Tinggi muka air (TMA) bendungan kini berada di bawah kondisi normal, meski Badan Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV memastikan pasokan untuk kebutuhan irigasi dan air baku Perumda Tirta Kencana masih mencukupi dalam beberapa hari ke depan.
Kepala Unit Pengelola Bendungan II BWS Kalimantan IV Samarinda Hayu Wardana mengatakan, TMA Bendungan Lempake saat ini berada pada elevasi 7,00 meter di atas permukaan laut (MDPL). Angka tersebut telah berada di bawah batas normal bendungan, yakni 7,20 MDPL.
Apabila hujan tidak kunjung turun dalam 10 hari ke depan, elevasi Bendungan Lempake berpotensi kembali menurun. Namun, dengan kondisi saat ini, ketersediaan air dinilai masih mencukupi kebutuhan irigasi maupun pasokan Perumda Tirta Kencana.
“Untuk 10 hari ke depan tanpa hujan kemungkinan akan turun elevasi, namun masih mencukupi untuk kebutuhan air irigasi dan perumda,” kata Hayu, Kamis (27/8/2026).
Penurunan TMA ini membuat pengelola bendungan mengintensifkan pemantauan di tengah musim kemarau.
Guna memastikan pasokan air baku warga tetap aman, BWS Kalimantan IV berkoordinasi dengan Perumda Tirta Kencana terkait operasional di intake Waduk Lempake, untuk membahas kondisi teknis pengambilan air serta batas elevasi minimal yang masih memungkinkan pompa beroperasi optimal.
“Kemarin kami sudah berkoordinasi dengan pihak intake Waduk Lempake tentang kondisi pengambilan airnya dan elevasi TMA pompa minimal yang bisa digunakan,” paparnya.
BWS juga membuka opsi bantuan teknis apabila diperlukan penanganan khusus pada kolam intake. Salah satu langkah antisipasi yang disiapkan adalah perluasan serta pengerukan kolam intake perumda agar pompa tetap bisa menyedot air saat elevasi terus menyusut.
“Kami juga siap membantu untuk perluasan dan pengerukan kolam intake perumda,” imbuhnya.
Di samping memantau stok air, BWS Kalimantan IV melanjutkan pengerukan waduk yang berjalan sejak Juli lalu, khususnya di bagian tengah.
Pekerjaan pembersihan sedimen ini ditargetkan berlangsung hingga akhir 2026, meski sempat tertahan lantaran alat berat sedang dalam perbaikan.
“Sampai akhir tahun ini masih ada kegiatan pengerukan, namun kondisi alat sedang dalam perbaikan,” ucapnya.
Selain pengerukan sedimen, BWS melakukan pembersihan gulma air yang menyelimuti area waduk seluas kurang lebih 12 hektare. Pemeliharaan ini menjadi bagian dari upaya menjaga daya tampung waduk selama kemarau berlangsung.
Kapasitas Bendungan Lempake saat ini dipastikan masih sanggup menopang kebutuhan irigasi dan air baku. Namun, alokasi pasokan tetap harus disesuaikan jika elevasi mendekati batas aman.
Oleh karena itu, keberadaan curah hujan dalam beberapa hari mendatang menjadi penentu utama agar elevasi Bendungan Lempake tidak terperosok ke status kritis.
“Kondisi kritis terjadi apabila elevasi sudah mencapai 6,50 MDPL, pengambilan air irigasi dan air baku harus dikurangi sebesar 50 persen,” tandasnya.
Editor: Erwin