Peresmian dilakukan bersama Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dan Presiden Direktur PT Kaltim Prima Coal (KPC) Muhammad Rudy. Rudy Mas’ud menyampaikan bahwa keberadaan jalan tersebut memiliki arti penting bagi konektivitas dan perekonomian daerah. Menurutnya, akses jalan yang baik akan memperlancar mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas investasi dan dunia usaha.
“Kebermanfaatan jalan ini seperti urat nadi, kalau dia tersumbat, keluar penyakitnya macam-macam. Begitu juga dengan jalan,” ujarnya. Dia menekankan, pembangunan infrastruktur jalan juga harus mampu memberikan manfaat yang seimbang antara kegiatan ekonomi dan kepentingan masyarakat. Jangan sampai kata Rudy, aktivitas pertambangan tetap berjalan, sementara masyarakat justru kesulitan menggunakan akses transportasi.
“Jangan sampai batu baranya bisa keluar, masyarakatnya malah tidak bisa keluar karena akses jalan rusak dan hancur akibat kegiatan pertambangan dan blasting,” ucapnya.
Kemudian, walaupun pembangunan jalan telah selesai dan mulai digunakan oleh masyarakat, Gubernur Kaltim tersebut masih memberikan sejumlah catatan. Salah satunya, meminta perusahaan menyediakan lampu penerangan jalan umum (LPJU).
“Untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari,” katanya. Bahkan, ia meminta kepolisian dapat melakukan pengawasan secara rutin untuk mencegah jalan tersebut digunakan untuk aktivitas yang membahayakan, seperti balap liar.
Sementara itu, setelah peresmian jalan Simpang Perdau – Tepian Langsat, orang nomor satu di Kaltim tersebut juga mendorong, KPC agar segera melanjutkan pembangunan jalan pengganti untuk ruas Sangatta – Simpang Perdau sepanjang sekitar 14 kilometer. Menurut Rudy, pembangunan jalur ini menjadi penting karena masih terdapat sejumlah titik yang mengalami longsor.
“Kita ingin jalur pengganti juga bisa menjaga kelancaran konektivitas sekaligus memberikan akses yang lebih aman bagi masyarakat,” tuturnya Presiden Direktur dan CEO KPC, Muhammad Rudy, menambahkan pembangunan jalan pengalih permanen merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.
Dirinya menilai, konektivitas menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong pembangunan daerah. Jalan tersebut diakuinya juga dibangun selama kurang lebih dua tahun oleh PT Wijaya Karya (Wika).
Bahkan ia memastikan, konstruksinya menggunakan standar jalan nasional dan telah melalui proses audit serta verifikasi keselamatan jalan. “Jalan ini dibangun dengan standar jalan nasional dan sudah melalui proses audit verifikasi keselamatan jalan,” terangnya.
Secara keseluruhan, trase jalan pengalih mencapai 22,05 kilometer, terdiri dari 3,45 kilometer Jalan Pengalih Sementara (JPS) dan 18,6 kilometer Jalan Pengalih Permanen. Pada ruas permanen, 12,85 kilometer menggunakan konstruksi rigid pavement dan 5,35 kilometer menggunakan cakar ayam modifikasi. Pembangunan juga dilengkapi Jembatan Kanguru (underpass) sepanjang 40 meter dengan 24 box culvert.
Sementara underpass beton di STA 14+700 Tepian Langsat dibangun oleh Kaltim Nusantara Coal, unit usaha Ithaca Resources. Muhammad Rudy menyebut pembangunan jalan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam memberikan nilai tambah serta kontribusi ekonomi berkelanjutan bagi Kutai Timur dan Kaltim. Usai diresmikan, jalan penghubung Simpang Perdau – Tepian Langsat tersebut langsung dimanfaatkan masyarakat.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, juga melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi jalan yang nantinya menjadi salah satu jalur penting penghubung Kaltim dan Kaltara.
Editor: Erwin