Diketahui berdasarkan pantauan di laman bmkg.go.id, update data jumlah hotspot terakhir pada tanggal 17 Agustus mencapai 556 titip panas.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menyatakan bahwa titik panas merupakan indikator adanya potensi kebakaran yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Dengan demikian, kata dia, keberadaan hotspot masih membutuhkan verifikasi di lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran.
“Titik panas itu bukan pasti kebakaran, tapi potensi bisa menyebabkan kebakaran. Bisa di lahan permukiman, lahan pertambangan, jadi semua wilayah,” ujar Buyung, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, data titik panas diperoleh melalui pemantauan satelit yang juga menjadi bagian dari pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemantauan dilakukan secara berkala sehingga jumlah titik panas dapat berubah dari hari ke hari.
“Jadi posisinya hari ini. Nanti besok bisa ada yang lanjut, bisa juga berkurang,” ucapnya.
Buyung mengatakan, kemunculan titik panas menjadi salah satu informasi penting bagi pemerintah dalam melakukan langkah antisipasi, khususnya di tengah kondisi musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.
"Lokasi hotspot juga sebenarnya tidak hanya berada di kawasan hutan. Titik panas dapat terdeteksi di berbagai jenis lahan, termasuk kawasan pertanian, perkebunan, pertambangan maupun lahan yang dikelola masyarakat," katanya.
Karena itu, pihaknya berencana terus melakukan sinkronisasi data dengan sejumlah sektor terkait. Koordinasi dilakukan dengan pihak perkebunan, kehutanan dan pertanian untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lokasi yang terdeteksi memiliki titik panas.
"Langkah ini tentunya sangat diperlukan agar setiap informasi hotspot dapat segera ditindaklanjuti dan tidak hanya berhenti pada data pemantauan satelit," terangnya.