Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama yang diikuti warga Keraton-Kainmas. Doa tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para tokoh dan pendahulu yang telah menjadi perintis kebersamaan serta kerukunan warga.
Koordinator Presidium Keraton-Kainmas, La Miru, mengatakan kegiatan syukuran tersebut merupakan tradisi yang telah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun.
“Syukuran ini merupakan bagian dari doa yang kita kirimkan kepada tokoh-tokoh dan para pendahulu kita yang sudah mendahului kita. Mereka merupakan perintis kebersamaan dan kerukunan ini,” ujar La Miru, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, melalui doa bersama, warga juga mendoakan agar para pendahulu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, amal ibadahnya diterima dan segala kekhilafannya diampuni.
Di sisi lain, momentum syukuran tersebut turut dimanfaatkan untuk menjaga keberlangsungan budaya Buton di tengah kehidupan masyarakat Samarinda.
Hal itu terlihat dari berbagai sajian makanan tradisional yang disiapkan warga, termasuk olahan umbi-umbian. Makanan tersebut tidak hanya menjadi hidangan dalam kegiatan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan tradisi kuliner yang diwariskan para leluhur.
Pelestarian budaya juga ditampilkan melalui tarian Linda, salah satu kesenian tradisional masyarakat Buton. Tarian tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara sekaligus sarana memperkenalkan budaya kepada generasi muda.
Selain itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan berbagai agenda lainnya, seperti silat dan badenda atau malam badenda.
La Miru menegaskan, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk terus memperkuat kebersamaan sekaligus memastikan tradisi dan budaya Buton tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Selain sebagai bentuk rasa syukur, kita ingin menjaga tradisi, budaya, kebersamaan, dan kerukunan warga. Kita juga mendoakan seluruh masyarakat agar diberikan kesehatan, dilancarkan rezekinya, dipanjangkan umurnya dan dijauhkan dari berbagai marabahaya,” pungkasnya.
Editor: Erwin