Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso menjelaskan, pemicu karhutla di Kota Tepian cukup beragam. Namun faktor ulah manusia tetap menjadi penyebab dominan, baik akibat kelalaian maupun kesengajaan. Salah satunya insiden di kawasan Bukit Pinang yang diduga kuat berasal dari puntung rokok milik warga saat memancing di sekitar danau.
"Memang kecil kebakarannya, paling 10 kali 20 meter, tetapi kalau kita tidak cepat, apinya melebar," kata Suwarso kepada Korankaltim.com Selasa (18/8/2026) hari ini.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kota Samarinda per 18 Agustus 2026, Kecamatan Palaran menjadi wilayah terdampak terparah. Di daerah ini tercatat 19 kejadian karhutla dengan total area terbakar mencapai 38,63 hektare (386.300 meter persegi).
Kondisi di Palaran mendapat perhatian khusus lantaran terdapat lahan perusahaan seluas 28 hektare yang hangus dalam dua kali kejadian.
Selain Palaran, sebaran karhutla tercatat di tujuh kecamatan lain. Samarinda Ulu mencatat 13 kejadian (18,09 hektare), Samarinda Utara 9 kejadian (10,52 hektare), Sambutan 9 kejadian (8,34 hektare), Sungai Kunjang 4 kejadian (4,1 hektare), serta Sungai Pinang 4 kejadian (3,36 hektare). Selanjutnya, Loa Janan Ilir mencatat 2 kejadian (0,75 hektare) dan Samarinda Kota 1 kejadian (200 meter persegi). Sementara itu, Kecamatan Samarinda Seberang dan Samarinda Ilir masih nihil kejadian.
Proses pemadaman di lapangan kerap terkendala medan terjal serta minimnya sumber air. Petugas sering kali harus menyambung hingga 25 gulungan selang, dengan panjang masing-masing gulungan sekitar 60 meter, untuk menjangkau titik api. "Medannya susah, rumput tinggi, kita harus menerobos," imbuhnya.
Guna mengatasi jauhnya pasokan air, petugas menyiasatinya dengan memanfaatkan kolam penampung air portabel agar distribusi air dapat didekatkan ke lokasi kebakaran secara bertahap.
Kendati menghadapi tantangan fisik, penanganan api menjadi lebih cepat berkat sinergi lintas pihak. BPBD Samarinda bergerak bersama relawan, BPBD Provinsi Kaltim, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga sejumlah perusahaan yang membantu menyuplai armada tangki air.
"Dengan begitu, menjadi lebih ringan, pemadamannya menjadi lebih cepat," sebut Suwarso.
Mengingat kondisi kering diprakirakan berlangsung hingga September, BPBD Samarinda meminta masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan permukiman. Warga juga dilarang membakar lahan atau sampah sembarangan serta wajib memastikan api benar-benar padam setelah beraktivitas.
Masyarakat yang menemukan titik api diimbau segera melapor melalui layanan darurat Call Center 112 atau saluran WhatsApp resmi Pusdalops-PB BPBD Samarinda.
Editor: Aspian Nur