Sejumlah warga Selasa (18/8/2026) hari ini mendatangi lokasi untuk menyampaikan keberatan. Mereka meminta keberadaan parit tetap dipertahankan agar air dapat mengalir dengan lancar, terutama saat hujan deras. Ketua RT 32 Rizka mengatakan, kondisi parit saat ini sudah menyempit dibandingkan sebelumnya. Padahal, saluran tersebut menjadi jalur penting bagi air dari lingkungan menuju saluran yang lebih besar. “Dulu memang paritnya besar. Setelah tanahnya dijual, kondisi paritnya menjadi kecil,” ujar Rizka.
Warga tidak mempersoalkan rencana pembangunan selama jalur air tetap tersedia. Mereka hanya meminta agar parit tidak ditutup atau semakin dipersempit. “Maunya warga paritnya tetap dibuat, supaya keluarnya lancar. Khususnya air dari dalam bisa keluar,” tambahnya.
Genangan masih kerap terjadi ketika musim hujan. Air dari permukiman biasanya dialirkan menuju saluran besar yang berada di bagian depan kawasan. “Kemarin masih menggenang kalau musim hujan. Biasanya air langsung keluar ke saluran besar di depan,” jelasnya.
Pihak RT juga telah berkomunikasi dengan pemilik lahan mengenai batas tanah dan ruang yang dapat dipertahankan sebagai jalur parit. Jika pembangunan mengikuti batas lahan, bagian tertentu dari saluran diperkirakan hanya tersisa sekitar 40 sentimeter.
“Di ujung sini yang paling kecil. Kalau mengikuti batas tanah, kemungkinan tinggal sekitar 40 sentimeter,” ungkapnya.
Sementara Bhabinkamtibmas Kelurahan Pelita Aipda Hengky Dady menjelaskan, kondisi parit tidak terlepas dari perkembangan kawasan. Dahulu, rumah warga masih berbentuk rumah panggung sehingga air dapat mengalir menuju sungai.
“Dulunya rumah di kawasan tersebut merupakan rumah panggung. Air memang menggenang, kemudian langsung mengalir ke aliran sungai,” terang Hengky.
Seiring berkembangnya kawasan, rumah panggung berganti bangunan permanen dan ruang terbuka untuk aliran air semakin berkurang. “Berkembangnya zaman, bangunan permanen mulai berdiri dan menyisakan parit kecil,” papar Hengky.
Warga berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi antara pemilik lahan, RT dan masyarakat, sehingga pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan fungsi drainase lingkungan.
Editor: Aspian Nur