Bangunan rumah jauh dari kata layak huni. Dinding mulai rapuh dan berlubang, atap bocor saat hujan turun, serta lantai kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Di rumah itu juga tidak tersedia aliran listrik maupun air bersih. Saat malam tiba, mereka hanya mengandalkan penerangan seadanya untuk beraktivitas.
Dani, anak sulung keluarga itu yang berusia 21 tahun, menjadi tulang punggung keluarga sejak ibunya jatuh sakit. Hampir setiap hari ia bekerja dari pagi hingga larut malam demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Saya kerja dari pagi sampai malam. Kadang pulang sudah tengah malam. Yang penting ibu dan adik-adik bisa makan,” ujar Dani dengan nada getir kepada Korankaltim saat ditemui dirumahnya pada Jum'at (15/5/2026)
Dani memilih berjalan kaki menuju tempat kerja untuk menghemat pengeluaran harian. Uang hasil kerjanya digunakan membeli kebutuhan makan serta membantu biaya pengobatan sang ibu.
“Kalau ada uang lebih baru dipakai beli kebutuhan rumah. Kadang juga buat obat ibu,” katanya.
Sementara adik keduanya memutuskan berhenti sekolah agar bisa menjaga ibunya di rumah. Sedangkan adik bungsu mereka yang masih berusia 12 tahun ikut membantu mencari nafkah dengan memulung barang bekas di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Kondisi keluarga tersebut mulai diketahui publik setelah kisah mereka beredar di media sosial dan mendapat perhatian berbagai pihak.
Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kalimantan Timur Rina Zainan mengatakan, pihaknya langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan warga.
“Awalnya kami mendapat informasi dari masyarakat melalui media sosial. Setelah dicek langsung, ternyata kondisinya memang sangat memprihatinkan,” ujar Rina.
Kondisi rumah itu sudah tidak layak ditempati karena dapat membahayakan kesehatan para penghuninya.
“Atap rumah bocor, papan sudah banyak rusak, tidak ada air bersih, kamar mandi juga tidak layak. Bahkan kasur mereka lembab karena sering terkena air hujan,” sebut Rina.
Rina mengaku tersentuh melihat perjuangan ketiga anak tersebut yang tetap bertahan merawat ibunya di tengah keterbatasan ekonomi.
“Anak sulung bekerja sampai larut malam demi keluarga, anak kedua berhenti sekolah untuk merawat ibunya, sementara adik bungsunya ikut memulung. Ini kondisi yang harus segera mendapat perhatian,” ucapnya.
Saat ini, ibu mereka telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit setelah mendapat bantuan dan perhatian dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui fasilitas BPJS Kesehatan.
Editor: Aspian Nur