Selain mengejar target fungsional, pemerintah juga memfokuskan penguatan aspek keselamatan kerja serta pengendalian kualitas udara di setiap lokasi pembakaran sampah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso menjelaskan, tim percepatan masih melakukan pengujian lapangan secara intensif. Fokus utama dalam tahapan ini adalah memastikan emisi yang dihasilkan tetap berada di bawah ambang batas aman.
“Insinerator ini tidak menggunakan cerobong asap dan sisa pembakaran diisap melalui blower, lalu diarahkan ke bak air sehingga tidak meluap ke udara,” ujar Suwarso.
Lanjutnya, sisa pembakaran berupa abu juga tidak langsung dibuang, melainkan direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan paving block.
Namun demikian, Suwarso menegaskan proses uji coba masih dilakukan secara bertahap karena pekerjaan di lokasi pembakaran membutuhkan keterampilan dan standar keselamatan yang tinggi.
“Karena suhu pembakarannya sekitar 800 derajat celsius, jadi perlu keamanan (safety) yang luar biasa dan pekerjanya harus benar-benar terampil,” tegasnya.
Ia memastikan anggaran operasional dasar telah disiapkan pemerintah, mulai dari kebutuhan tenaga kerja hingga pengiriman bahan bakar dan distribusi sampah yang akan dipilah di lokasi insinerator.
Selain pengujian mesin, Pemkot Samarinda juga mulai melakukan penataan lingkungan di sekitar lokasi, termasuk penanaman pohon untuk meminimalkan dampak sisa asap pembakaran.
“Walaupun masih ada sedikit asap, kami ingin itu tidak menyebar,” jelasnya.
Tak hanya itu, akses jalan menuju lokasi insinerator juga mulai dibenahi setelah sebelumnya dibahas bersama instansi terkait. Perbaikan tersebut kini ditindaklanjuti oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda.
Suwarso berharap seluruh tahapan uji coba dapat rampung dalam waktu dekat sehingga operasional penuh bisa segera dimulai.
“Diharapkan bulan depan sudah berjalan. Untuk pembukaan (opening) nanti dijadwalkan kembali,” pungkasnya.
Editor: Erwin