Kondisi ini kerap memicu tanda tanya di tengah masyarakat karena dalam waktu bersamaan, sebagian kawasan diguyur hujan deras sementara wilayah lainnya tetap kering kerontang.
Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Samarinda, Zaki Ramdhani menjelaskan, fenomena tersebut dipicu oleh pola angin dan proses penguapan yang tidak merata di seluruh wilayah Kota Tepian.
Hujan lokal umumnya terbentuk dari penguapan air dalam volume besar, baik yang bersumber dari laut maupun sungai besar seperti Sungai Mahakam. Uap air tersebut kemudian bergerak secara dinamis mengikuti arah serta kecepatan angin.
“Contohnya kemarin, di Sungai Siring belum turun hujan tetapi di pusat kota sudah hujan. Kadang terjadi sebaliknya, termasuk di wilayah Samarinda Seberang,” jelas Zaki kepada Korankaltim.com Senin, (11/5/2026).
Berdasarkan catatan BMKG, cuaca di Samarinda saat ini sedang berada dalam fase pancaroba atau peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Selain itu terdapat pengaruh pola arus angin dari wilayah Kalimantan bagian selatan hingga perbatasan Kalimantan Tengah dan Malaysia yang memicu pergeseran sebaran uap air ke wilayah tertentu.
Meski sempat mengalami cuaca panas dalam durasi yang cukup panjang, BMKG memastikan peluang hujan di Samarinda masih tergolong tinggi. Ini dikarenakan letak geografis Samarinda yang berada di lintang ekuator dengan karakteristik curah hujan yang relatif panjang sepanjang tahun.
“Untuk hujan setiap hari masih sangat memungkinkan, tetapi terjadi secara lokal,” tambahnya.
Sementara musim kemarau di Samarinda diprediksi mulai masuk pada Juni mendatang. Namun BMKG tidak menutup kemungkinan adanya pergeseran waktu mengingat kondisi atmosfer yang masih sangat dinamis.
Berbeda dengan musim hujan atau kemarau yang memiliki rentang periode tertentu, hujan lokal tidak memiliki pola waktu yang pasti.
“Untuk prakiraan ke depan, curah hujan masih berada pada kategori menengah, yakni sekitar 50 hingga 100 milimeter dalam satu dasarian,” tutup Zaki.
Editor: Aspian Nur